Lingkar Dakwah

Ini Bantahan LGBT itu dari Gen!

Di indonesia, riak advokasi LGBT mulai menggeliat pada tahun 1960-an yang ditandai dengan pendirian Himpunan Wadam Djakarta (Hiwad). Berdirinya himpunan tersebut difasilitasi oleh Jenderal Marinir Ali Sadikin selaku Gubernur DKI Jakarta saat itu. Istilah Wadam (Wanita Adam) awalnya diniatkan untuk mengganti kata banci atau bencong yang dianggap berkonotasi negatif. Namun istilah Wadam segera menuai protes dari MUI karena dianggap tidak patut menyelipkan nama seorang Nabi yang suci ke dalam komunitas mereka yang kontroversial, maka muncullah istilah Waria (Wanita Pria) pada tahun 1978.

Dalam konteks internasional, wacana LGBT bahkan mulai mengemuka pada era tahun 1950-an (History of Lesbian, Gay, and Bisexual Social movement, Bonnie J. Morris, PhD). Bahkan jika mundur lebih jauh lagi meninjau literatur agama, eksistensi mereka sudah ada sejak masa kenabian Luth as, dan sejak itu mereka menjadi sekelompok kaum yang lekat dengan kontroversi.

Kontroversi ini menyita perhatian para ilmuwan untuk membuktikan apakah benar LGBT adalah bawaan sejak lahir, atau merupakan pilihan?

Pro-LGBT

Teori andalan yang dijadikan senjata utama oleh kaum LGBT untuk menyatakan eksistensinya seacara ilmiah dikenal dengan istilah gay genes yang pertama kali diperkenalkan oleh Magnus Hirscheld dari Jerman pada 1899. Teori gay genes ini menegaskan bahwa homoseksual adalah sifat bawaan, fitrah manusia sejak lahir.

Teori gay genes menjelaskan bahwa menjadi kaum LGBT sama sekali bukan pilihan, melainkan suatu faktor genetik yang tidak terhindarkan, makanya LGBT tidak bisa disembuhkan, lebih tepatnya tidak usah disembuhkan, karena menurut tokoh pendukung LGBT, kecenderungan orientasi seksual terhadap sesama jenis sama sekali bukan penyakit.

Tahun 1990-an menjadi momentum bagi pendukung teori ini untuk membuktikan kebenaran asumsi mereka. Diawali oleh Dr.Michael Bailey dan Dr.Richard Pillard yang mengadakan penelitian untuk membuktikan teori tersebut pada tahun 1991. Penelitian dilakukan pada pasangan saudara: kembar identik, kembar tidak identik, saudara-saudara biologis dan saudara-saudara adopsi; salah satu di antaranya adalah seorang gay. Riset tersebut menyimpulkan adanya pengaruh genetik dalam homoseksualitas. Terdapat 52% pasangan kembar identik dari orang gay berkembang menjadi gay. Namun gen di kromosom yang membawa sifat menurun itu tidak ditemukan.

Pada 1993, riset dilanjutkan oleh Dean Hamer, seorang gay, yang meneliti beberapa pasang kakak beradik homoseksual. Tokoh Hamer ini kemudian menjadi sosok tuhan bagi kaum LGBT, meski di sisi lain justru menimbulkan kontroversi. Hamer mengklaim bahwa satu atau beberapa gen yang diturunkan oleh ibu dan terletak di kromosom Xq28 sangat berpengaruh pada orang yang menunjukkan sifat homoseksual. Hasil riset ini meneguhkan pendapat kaum homoseksual bahwa homoseksual adalah fitrah/bawaan, bukan penyimpangan sehingga mustahil bisa diluruskan.

Anti-LGBT

Hasil penelitian Dean Hamer tersebut segera menuai protes dari sejumlah peneliti. Variabel kontrol yang tidak jelas ditampakkan oleh Hamer dalam penelitiannya menjadi satu celah terbesar bagi para peneliti untuk mengkritik hasil temuannya. Lebih jauh lagi, hasil temuan Hamer disinyalir sebagai hoax karena gagal dibuktikan pada penelitian lain yang mereplikasi eksperiment penelitian yang sama. Atas ketidakjujurannya dalam penelitian tersebut, Hamer akhirnya dituduh telah membawa agenda promosi gay. Pada tahun 1995, Scientific American mengonfirmasi bahwa Hamer dituntut atas tuduhan menyalahgunakan hasil penelitian, dan berada di bawah pengawasan Institute of Health’s Federal Office.

Lebih lanjut, artikel The New York Native merilis pernyataan dari George Ebers dan Prof. George Rice, ahli neurogenetik dari University of Western Ontario yang mengadaptasi riset Hamer dengan jumlah responden yang lebih banyak. Eber dan Rice memeriksa 52 pasang kakak beradik homoseksual untuk melihat keberadaan empat penanda di daerah kromosom. Hasilnya menunjukkan, kakak beradik itu tidak memperlihatkan kesamaan penanda di gen Xq28 kecuali secara kebetulan. Para peneliti tersebut menyatakan bahwa segala kemungkinan adanya gen di Xq28 yang berpengaruh besar secara genetik terhadap timbulnya homoseksualitas dapat ditiadakan. Sehingga hasil penelitian mereka tidak mendukung adanya kaitan gen Xq28 yang dikatakan mendasari homoseksualitas pria.

Kata Ebers, “We can’t reproduce Hamer’s data” kita tidak bisa mereproduksi data Hamer. Teori Gay Genes tidak terbukti.

Penelitian juga dilakukan oleh Prof Alan Sanders dari Universitas Chicago, di tahun 1998-1999. Hasil riset juga tidak mendukung teori hubungan genetik pada homoseksualitas. Dua penelitian tersebut makin meruntuhkan teori gay genes.

Akhirnya pada Agustus 1999, George Rice and George Ebers  mem-publish sebuah ulasan resmi tentang kajian Hamer, kedua ilmuwan tersebut menyimpulkan bahwa hasil penelitian Hamer sama sekali tidak mendukung adanya kaitan antara gen Xq28 dan sifat kecenderungan homoseksual.

Ruth Hubbard, seorang pengurus “The Council for Responsible Genetics” yang juga penulis buku “Exploding the Gene Myth” mengatakan:

“Pencarian sebuah gen gay bukan suatu usaha pencarian yang bermanfaat. Saya tidak berpikir ada gen tunggal yang memerintah perilaku manusia yang sangat kompleks. Ada berbagai komponen genetik dalam semua yang kita lakukan, dan adalah suatu kebodohan untuk menyatakan gen-gen tidak terlibat. Tapi saya tidak berpikir gen-gen itu menentukan.”

Menyadari kesalahannya, Dean Hamer pun akhirnya mengakui bahwa risetnya tidak mendukung bahwa gen adalah faktor utama yang melahirkan homoseksualitas:

“Kami menerima bahwa lingkungan mempunyai peranan membentuk orientasi seksual … Homoseksualitas secara murni bukan karena genetika. Faktor-faktor lingkungan berperan. Tidak ada satu gen yang berkuasa yang menyebabkan seseorang menjadi gay … kita tidak akan dapat memprediksi siapa yang akan menjadi gay.”

Mengacu pada hasil-hasil riset di atas, maka jelaslah bahwa disorientasi seksual yang kita kenal dengan istilah LGBT sama sekali tdiak dilandasi oleh faktor genetik. Maka teori gay genes atau asumsi terlahir sebagai gay adalah HOAX.

Epilog

Teori lain yang sedang diperbincangkan terkait LGBT adalah teori N-sexes, sebuah teori yang diusung oleh Gilles Deleuze, seorang filsuf Prancis. Deleuze melihat bahwa menjadi gay, lesbian, dan lain-lain adalah suatu cap identitas. Alasanya menurut Hendri karena gay dan lesbian itu hanyalah sebatas identitas sosial, bukan kebenaran jati diri. Contohnya orang yang suka coklat tidak harus disebut pecinta coklat, dan “pecinta coklat” tidak langsung menjadi identitas diri. Namun bantahannya sederhana sekali, bahwa tidak semua identitas sosial adalah baik dan benar. Bahkan jika teori gay genes dan N-sexes tersebut benar-benar terbukti, manusia tidak bisa begitu saja menerima keadaan dirinya yang jelas-jelas tidak berterima dengan norma sosial dan agama. Misalnya seseorang yang lahir dengan kecenderungan senang mengambil barang orang lain, tentu tidak bisa diterima begitu saja. Kenyataan bahwa dia senang mencuri barang orang lain menjadikan dia pantas disebut pencuri. Harus muncul sebuah kesadaran dari dalam dirinya bahwa identitasnya sebagai pencuri tidak berterima dengan masyarakat, maka dia harus berjuang untuk merubah kebiasaan buruk tersebut.

Sebagaimana seorang gay, misalnya, tidak logis mengatakan dirinya terlahir secara fitrah sebagai seorang gay (apalagi setelah semua teori pendukung LGBT diruntuhkan), lalu dengan dalih HAM merasa bebas melegalkan segala tindakannya yang bertentangan dengan fitrah manusia itu sendiri. Bukankah seharusnya mereka berjuang untuk berubah menjadi manusia-manusia yang normal? Kembali ke fitrah.

Tidak diragukan lagi, kasus LGBT ini bisa disembuhkan. Psikolog Klinis dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Noor Rachman Hadjam mengatakan, “Kaum LGBT tetap bisa disembuhkan …”. Namun sebelum disembuhkan, para individu LGBT harus membangun kesadaran dalam diri mereka untuk sembuh. Bagaimanapun, para individu LGBT harus sadar bahwa mereka sedang sakit, kalau tidak dalam artian medis, setidaknya sakit dari tinjauan sosial.

Karena menjadi seorang Gay, Lesbian, Biseksual, atau Transgender adalah PILIHAN, maka tentu dengan logika yang sama bisa dikatakan bahwa tidak menjadi Gay, Lesbian, Biseksual, atau Transgender juga PILIHAN.

 

Hendra Bakti (Aktivis Dakwah dan Sosial; Anggota Dept. Kajian Strategis PP LIDMI).

 

Artikel terkait: LGBT Ternyata Bisa Sembuh; Ini Buktinya!

5 comments
  1. Halija

    Memang bukan dari gen, tapi berpengaruh juga dengan proses pembuatannya. Kemungkinan orang tuanya tdk baca doa sebelum, akhirnya jin juga ikut dalam proses pembuatan itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *