Lingkar Dakwah

ARTI SAHABAT DALAM ISLAM

lidmi alwiSebagai makhluk sosial  tentu saja manusia akan senantiasa butuh dengan orang lain, mulai sejak lahir hingga kelak meninggal dunia. Ketika lahir,kita membutuhkan sanak keluarga, khususnya ibu, untuk mendidik, merawat, dan menemani hari demi hari dalam setiap  fase kehidupan dunia kita,.hingga ajal menjemput. Begitupun ketika kita terbujur kaku tak bernyawa, mereka masih kita butuhkan untuk mengurus, memandikan, dan meguburkan jasad- jasad kita ini. Begitupun dalam bermuamalah, kita membutuhkan orang lain, dan terkhusus lagi seorang sahabat untuk memenuhi segala kebutuhan hidup serta mengapai segala cita, obsesi dan tujuan hidup kita.

Gambaran teladan yang bisa diajadikan sebagai contoh adalah sosok Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam . Manusia terbaik yang memilki akhlak  yang luhur, kemurahan hati, kedermawanan, sosok yang amanah dan dipercaya, rupawan, fasih dalam berbicara, jelas dalam berucap, lancar dan jernih kata-katanya, serta tidaklah setiap ucapan yang keluar dari mulut beliau, kecuali datangnya dari Wahyu ilahi. Namun ternyata, dengan kesempurnaan yang dimilki tersebut, Beliau masih saja membutuhkan para sahabat Radiallahuanum ajema’in dalam memperjuangkan Islam yang mulia ini. Maka kalau saja Rasulullah masih tetap membutuhkan sosok seorang sahabat, apatahlagi dengan kita ini.

Tulisan di bawah ini,mengurai beberapa point  tentang “ Arti  Sahabat dalam Islam “, selamat menyimak !!!

  1. Cintai Mencintai karena Allah

 

Cinta adalah sebuah kata yang indah, yang mengandung sejuta makna. Seuntai kata yang senantiasa terbetik dari lubuk hati setiap Insan. Cinta tidak bisa dipandang secara kasat mata,namun bisa dirasa. Orang yang dibuainya, akan melakukan segalanya demi untuk sesuatu yang dicantainya. Namun sungguh sayang, cinta yang suci itu banyak yang berujung derita, kecewa dan derai air mata. Bukan salah cinta, namun Mereka yang salah menafsirkan serta menempatkan cinta pada pada tempat yang semestinya. Membagun cinta di atas pondasi yang rapuh. Mereka- mereka itulah yang cintai mencintai bukan karena Allah namun hanya karena nafsu dan tendensi dunia semata. Waliyadzubillah

Dalam sebuah hadits yang shahih, yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “Tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan ‘Arsy Allah Ta’ala dimana tidak ada naungan kecuali hanya naungan Allah Ta’ala.”. salah satunya diantaranya adalah “. Dua orang yang saling mencintai karena Allah Ta’ala. Mereka berkumpul karena Allah dan mereka pun berpisah juga karena Allah Ta’ala.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat az-Zukhruf ayat 67:

الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ.

Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.”(QS. az-Zukhruf [43]: 67)

 

Berkaitan dengan ayat di atas, para ulama menjelaskan bahwa jika kasih sayang dalam persahabatan yang kita jalin dengan sahabat kita bukan didasari karena Allah, maka kelak hal itu akan berbalik menjadi permusuhan di hari kiamat. Apalagi jika sahabat kita tersebut sering mengajak dan menjerumuskan kita ke dalam perbuatan-perbuatan yang dimurkai oleh Allah seperti kesyirikan dan kemaksiatan, maka bisa dipastikan dia akan menjadi musuh yang nyata bagi kita di hari kiamat. Dan hal ini tidak berlaku kepada orang-orang yang bertakwa, yang mana mereka menjalin persahabatan karena Allah dan di atas ketakwaan kepada Allah. (Lihat penjelasan Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di dalam kitab Taisir al-Karim ar-Rahman, cetakan Dar Ibnu Hazm, Beirut 1424 H, halaman 735)

Persahabatan yang dijalin oleh orang-orang mukmin itu akan berakhir indah dan penuh kenikmatan karena Allah telah meridhainya. Sedangkan persahabatan yang dijalin oleh orang-orang kafir itu akan berakhir dengan kesengsaraan dan adzab dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

  1. Setia hingga akhir

           

            Salah satu indikator penting yang mencirikan sosok sahabat sejati adalah kesetiannya. Baik ketika kondisi aman maupun kondisi genting, baik dalam keadaan mudah, maupun sulit, baik dalam kondisi sempit maupun dalam kondisi lapang, komitmen dan kesetian mereka akan senantiasa utuh dan tidak memudar. Prinsip sami’na wa ato’na terus menjadi acauan dalam setiap keputusan yang diambilnya. Sejarah telah menukil, kesetian- kesetian para sahabat dalam mendampingi Rasulullah sallallahu’alaihi wasallam dalam berbagai medan peperanagan. Simaklah bagaimana perkataan salah seorang sahabat Rasulullah Sa’ad bin Muadz, al Anshari, pimpinan suku Aus, dalam kondisi sulit dan genting beliau mengatakan kepada Rasulullah, “Demi Allah, seandainya Engkau membawa kami sampai ke al- Bark dari Ghamdan, niscaya kami akan tetap berajalan mengirimu. Sekiranya Engkau membawa kami menempuh lautan, tentulah kami akan mengarunginya bersamamu. Kami tidak akan benci jika engkau harus memerintahkan kami untuk menghadapi musuh esok hari. Sungguh kami akan bersabar di dalam peperangan dan bersikap tegar dalam pertempuran semoga Allah menentramkan jiwamu dari apa yang kami kabarkan.”

Dan lihatlah sebaliknya pula, bagaimana penghianatan kaum bani israil ketika di seru untuk berjihad meraka enggang dan mengatakan

           

قَالُوا يَا مُوسَىٰ إِنَّا لَنْ نَدْخُلَهَا أَبَدًا مَا دَامُوا فِيهَا ۖ فَاذْهَبْ أَنْتَ وَرَبُّكَ فَقَاتِلَا إِنَّا هَاهُنَا قَاعِدُونَ

Mereka berkata: “Hai Musa, kami sekali sekali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada didalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti disini saja”. (Q.S AL-Maidah ayat 24)

3.Cerminan Agama Seseorang

Sebenarnya, sangat mudah mengetahui seperti apa cerminan diri seseorang. Cukup dengan melihat bersama siapa saja seseorang itu sering bergaul, seperti itulah cerminan diri orang tersebut Kenyataan ini telah dipaparkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

Seorang mukmin cerminan dari saudaranya yang mukmin [ HR al-Bukhâri (al-Adabul -Mufrad no. 239) dan Abu Dâwud no. 4918 (ash-Shahîhah no. 926) ]

Maka tolak ukur agama seseorang dapat dilihat dari agama sahabat dekatnya

 “Agama Seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, no. 927)

 

  1. Mendahulukan kepentingan saudaranya disbanding diri sendiri (itsar)

Salah satu hal yang penting dalam persahabatan adalah sifat itsar. Alquran dan As sunnah, telah mepertegas goresan tinta para sejarawan dalam menikul setiap kisah- kisah para sahabat yang mengorabankan dirinya, untuk kepentingan saudaranya. Kemuliaan mereka para sahabat disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sebaik-baik manusia adalah yang ada pada zamanku (sahabat) , kemudian setelah mereka (Tabi’in), kemudian setelah mereka (Tabi’ut tabi’in)” (HR. Bukhari no.3651, Muslim no.2533)

 Kisah pertama: Kisah tiga orang sahabat nabi yang terluka ketika Perang Yarmuk

Dari Abdullah bin Mush’ab Az Zubaidi dan Hubaib bin Abi Tsabit, keduanya menceritakan, “Telah syahid pada perang Yarmuk al-Harits bin Hisyam, Ikrimah bin Abu Jahal dan Suhail bin Amr. Mereka ketika itu akan diberi minum, sedangkan mereka dalam keadaan kritis, namun semuanya saling menolak. Ketika salah satu dari mereka akan diberi minum dia berkata, “Berikan dahulu kepada si fulan”, demikian seterusnya sehingga semuanya meninggal dan mereka belum sempat meminum air itu. Dalam versi lain perawi menceritakan, “Ikrimah meminta air minum, kemudian ia melihat Suhail sedang memandangnya, maka Ikrimah berkata, “Berikan air itu kepadanya.” Dan ketika itu Suhail juga melihat al-Harits sedang melihatnya, maka iapun berkata, “Berikan air itu kepadanya (al Harits)”. Namun belum sampai air itu kepada al Harits, ternyata ketiganya telah meninggal tanpa sempat merasakan air tersebut (sedikitpun). (HR Ibnu Sa’ad dalam ath Thabaqat dan Ibnu Abdil Barr dalam at Tamhid, namun Ibnu Sa’ad menyebutkan Iyas bin Abi Rabi’ah sebagai ganti Suhail bin Amr)

Kedua: Kisah sahabat Nabi yang kedatangan tamu

Ada salah seorang sahabat yang kedatangan seorang tamu, kemudian sahabat tersebut bertanya kepada istrinya, “Apakah kamu memiliki sesuatu untuk menjamu tamu. Istrinya pun menjawab, “Tidak ada, hanya makanan yang cukup untuk anak-anak kita”. Lalu sahabat tersebut berkata, “Sibukkanlah anak-anak kita dengan sesuatu (ajak main), kalau mereka ingin makan malam, ajak mereka tidur. Dan apabila tamu kita masuk (ke ruang makan), maka padamkanlah lampu. Dan tunjukkan kepadanya bahwa kita sedang makan bersamanya. Mereka duduk bersama, tamu tersebut makan, sedangkan mereka tidur dalam keadaan menahan lapar. Tatkala pagi, pergilah mereka berdua (sahabat dan istrinya) menuju Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Lalu Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam memberitakan (pujian Allah Ta’ala terhadap mereka berdua), “Sungguh Allah merasa heran/kagum dengan perbuatan kalian berdua terhadap tamu kalian). maka Allah menurunkan ayat (QS. Al Hasyr ayat 9) (HR Bukhari dan Muslim)

Ketiga: Kisah sahabat Nabi yang diberi hadiah

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Salah seorang dari sahabat Nabishallallahu’alaihi wa sallam diberi hadiah kepala kambing, dia lalu berkata, “Sesungguhnya fulan dan keluarganya lebih membutuhkan ini daripada kita.” Ibnu Umar mengatakan, “Maka ia kirimkan hadiah tersebut kepada yang lain, dan secara terus menerus hadiah itu dikirimkan dari satu orang kepada yang lain hingga berputar sampai tujuh rumah, dan akhirnya kembali kepada orang yang pertama kali memberikan.” (Riwayat al Baihaqi dalam asy Syu’ab 3/259)

            Subhanallah, inilah akhlak generasi terbaik sepanjang masa, inilah teladan yang benar-benar dibutuhkan di masa ini, agar benar-benar terjalin persaudaraan yang kuat, ukhuwah yang erat, serta mendatangkan berkah dan rahmat dari Allah Rabbul ‘alamiin. Mudah-mudahan kita di mudahkan oleh Allah Ta’ala di dalam meneladani Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dan para sahabat radhiyallahu ‘anhum dan di kumpulkan bersama mereka di Jannatin Na’im (surga yang penuh kenikmatan).

  1. Pemberi syafaat di Akhirat kelak

 

Dari Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, dalam hadis yang panjang, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang syafaat di hari kiamat,

حتى إذا خلص المؤمنون من النار، فوالذي نفسي بيده، ما منكم من أحد بأشد مناشدة لله في استقصاء الحق من المؤمنين لله يوم القيامة لإخوانهم الذين في النار، يقولون: ربنا كانوا يصومون معنا ويصلون ويحجون، فيقال لهم: أخرجوا من عرفتم، فتحرم صورهم على النار، فيخرجون خلقا كثيرا قد أخذت النار إلى نصف ساقيه، وإلى ركبتيه، ثم يقولون: ربنا ما بقي فيها أحد ممن أمرتنا به، فيقول: ارجعوا فمن وجدتم في قلبه مثقال دينار من خير فأخرجوه، فيخرجون خلقا كثيرا، ثم يقولون: ربنا لم نذر فيها أحدا ممن أمرتنا…

Setelah orang-orang mukmin itu dibebaskan dari neraka, demi Allah, Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kalian begitu gigih dalam memohon kepada Allah untuk memperjuangkan hak untuk saudara-saudaranya yang berada di dalam neraka pada hari kiamat. Mereka memohon: Wahai Tuhan kami, mereka itu (yang tinggal di neraka) pernah berpuasa bersama kami, shalat, dan juga haji. Dijawab: ”Keluarkan (dari neraka) orang-orang yang kalian kenal.” Hingga wajah mereka diharamkan untuk dibakar oleh api neraka.

Para mukminin inipun mengeluarkan banyak saudaranya yang telah dibakar di neraka, ada yang dibakar sampai betisnya dan ada yang sampai lututnya. Kemudian orang mukmin itu lapor kepada Allah, ”Ya Tuhan kami, orang yang Engkau perintahkan untuk dientaskan dari neraka, sudah tidak tersisa.” Allah berfirman, ”Kembali lagi, keluarkanlah yang masih memiliki iman seberat dinar.”

Maka dikeluarkanlah orang mukmin banyak sekali yang disiksa di neraka. Kemudian mereka melapor, ”Wahai Tuhan kami, kami tidak meninggalkan seorangpun orang yang Engkau perintahkan untuk dientas…” (HR. Muslim no. 183).

Memahami hadis ini, Imam Hasan al-Bashri menasehatkan,

استكثروا من الأصدقاء المؤمنين فإن لهم شفاعة يوم القيامة

”Perbanyaklah berteman dengan orang-orang yang beriman. Karena mereka memiliki syafaat pada hari klamat.”

Imam Ibnul Jauzi menasehatkan kepada teman-temannya,

إن لم تجدوني في الجنة بينكم فاسألوا عني وقولوا : يا ربنا عبدك فلان كان يذكرنا بك

”Jika kalian tidak menemukan aku di surga, maka tanyakanlah tentang aku kepada Allah. Ucapkan: ’Wahai Tuhan kami, hambaMu fulan, dulu dia pernah mengingatkan kami untuk mengingat Engkau.” Kemudian beliau menangis.

Demikianlah tulisan yang sederhana ini, semoga setiap pesan yang terkandung di dalamya, menjadi bahan renungan bagi kita semua. Semoga tangan kita termasuk daintara satu dari sekain banyak  tangan- tanagn yang akan  bergandengan bersama memasuki Jannah-Nya. Amiin

 

Wallahu ‘alam bissawab.

Muhammad Alwi ( Ketua LIDMI Makassar )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *