Lingkar Dakwah

Dakwah; Kepada Siapa? (2)

Bismillah

melanjutkan pembahasan bagian I tentang http://lingkardakwah.com/artikel/dakwah-siapa-1/

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Ruqoyyah Tamim bin Aus Ad-Daary radhiallahu ‘anhu,“Agama adalah nasihat”. Kami bertanya:  “Bagi siapa wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Bagi Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, bagi para pemimpin kaum muslim dan bagi kaum muslim secara umum.” (HR. Muslim)

Al-Qur’an dan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam

Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha, ketika ditanya oleh Sa’d bin Hisyam bin Amir tentang akhlak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia menjawab:

“Akhlak beliau adalah Al-Qur`an. Tidakkah engkau membaca firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,’Sungguh engkau (wahai Muhammad) berbudi pekerti (memiliki akhlak) yang agung’?”

(HR. Ahmad, 6/88)

Al-Qur’an Mukjizat Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam

Dan jika kamu meragukan al-Qur’an yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah satu surah semisal dengannya dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah jika kamu orang-orang yang benar.” (Al-Baqarah : 23)
Musailamah al- Kadzdzab berjumpa dengan ‘Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhu.  Musailamah bertanya, “Surat apa yang turun kepada sahabatmu di Makkah itu?” ‘Amr bin Ash menjawab, “Turun surat dengan tiga ayat yang sangat ringkas, namun sangat luas maknanya.” “Coba bacakan kepadaku surat itu!” Kemudian surat al-‘Ashr dibacakan oleh ‘Amr bin Ash. Musailamah merenung sejenak, ia berkata, “Kepadaku juga turun surat persisi seperti itu.” ‘Amr bin Ash bertanya, “Apa isi surat itu?” Musailamah menjawab, “Ya wabr, ya wabr. Innaka udzunani wa shadr. Wa sairuka hafrun naqr. (Hai marmut, hai marmut. Engkau hanyalah dua daun telinga dan dada. Adapun selebihnya adalah hina dan berpenyakit.)” Mendengar itu ‘Amr bin Ash, yang saat itu masih kafir, tertawa terbahakbahak, “Demi Allah, engkau tahu bahwa aku sebetulnya tahu bahwa yang kamu omongkan itu adalah dusta.”

“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan al-Qur’an dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (Al-Hijr : 9)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Tidak ada seorang nabi pun, kecuali diberi bukti-bukti (mukjizat) yang dengan semisal itu manusia beriman, dan (di antara bukti kenabian/mukjizat yang aku dianugerahi adalah wahyu yang Allah Subhanahu wata’ala wahyukan kepadaku, dan aku berharap menjadi nabi yang terbanyak pengikutnya di hari kiamat.” (HR. Muslim no. 152 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Apa yang dibawa Al-Qur’an sama dengan yang dibawa Rasulullah

Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah meriwayatkan dalam Shahih-nya, bahwa ‘Atha bin as-Sa’ib bercerita, “Aku berjumpa dengan ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiyallahu ‘anhu. Aku katakan kepadanya, ‘Ceritakan kepada saya sifat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam kitab Taurat.’
‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiyallahu ‘anhu menjawab, ‘Baiklah. Demi Allah, sungguh Taurat menyebutkan sifat beliau sebagaimana sebagian sifat beliau dalam al-Qur’an:
‘Wahai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu sebagai saksi, pemberi berita gembira, dan pemberi peringatan’ (Al Ahzab: 45) ,

(HR. al-Bukhari no. 2125)

“Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya al-Kitab (al-Qur’an) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya; sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan siksaan yang sangat pedih dari sisi Allah dan memberi berita gembira kepada orang-orang yang beriman, yang mengerjakan amal saleh, bahwa mereka akan mendapat balasan yang baik.” (al-Kahfi: 1—2)

Al-Qur’an dibaca oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam

Namanya adalah Tufayl ibn Amr. Tufayl adalah kepala suku Douse. Dia adalah seorang penyair yang sangat mahir sehingga dia dihormati dalam masyarakat Arab. Tufayl ibn Amr sedang dalam perjalanan untuk berhaji & saat ia tiba di Mekkah, dia disapa oleh salah satu orang Mekkah. Orang Mekkah itu berkata: “Hati-hati dengan Muhammad, dia sangat berbahaya!” Dan karena dia adalah orang yang berkedudukan dalam masyarakat, maka Tufayl ibn Amr juga dijamu oleh para pemimpin Quraisy. Para pemimpin Quraisy juga berkata kepada Tufayl: “Jangan dengarkan Muhammad, pidato ajaibnya akan membuatmu gila & membuatmu menjauh dari segala hal yang kau cintai.

Keesokan harinya aku pergi ke tempat ibadah, aku pergi ke Ka’bah dan melakukan thawaf di sekitar Ka’bah sebagai bagian dari ibadah menyembah berhala yang kami muliakan. Aku menyumbat telingaku dengan kapas karena takut pidato Muhammad mempengaruhiku. Segera setelah aku memasuki tempat ibadah, aku melihatnya sedang berdiri di dekat Ka’bah. Ia beribadah dengan cara yang berbeda dengan ibadah kami. Keseluruhan caranya beribadah berbeda. Hal itu memikatku. Ibadahnya membuatku bergetar dan aku merasa tertarik padanya meskipun aku takut, sampai aku cukup dekat dengannya. Takdir Tuhan menghendaki sebagian kata-kata yang diucapkannya terdengar olehku & aku berkata pada diri sendiri: “Kenapa juga harus takut? Kau adalah penyair yang cerdik, dan kau dapat membedakan antara puisi yang baik & puisi yang buruk. Apa yang mencegahmu mendengarkan apa yang orang ini katakan? Jika apa yang dikatakannya baik, terima saja dan jika buruk, maka tolaklah.”
Aku tetap di sana sampai Nabi pulang ke rumahnya. Aku mengikutinya, kemudian ia memasuki rumahnya dan aku ikut masuk juga. Kemudian aku berkata: “Wahai Muhammad, kaummu menceritakan hal-hal aneh tentangmu kepadaku, Demi Tuhan mereka terus menakutiku dengan hal-hal itu dan menjauhkanku dari seruanmu sampai-sampai aku menutup telingaku agar tidak mendengarkan perkataanmu. Meskipun begitu, Tuhan membuatku mendengar sebagian kata-katamu & kurasa pesanmu adalah pesan yang baik. Jadi ceritakan kepadaku tentang tujuanmu.
Dan kemudian dia memberitahu tujuannya kepadaku dan membacakan kepadaku surat Al Falaq. Aku bersumpah Demi Tuhan, aku belum pernah mendengar kata-kata yang seindah ini sebelumnya. Aku juga tidak pernah mendengar tujuan yang lebih mulia daripada tujuannya. Kemudian aku mengulurkan tanganku kepadanya dalam kesetiaan & bersaksi bahwa tidak ada yang patut disembah kecuali Tuhan Yang Maha Esa & bahwa Muhammad benar-benar utusan Tuhan. Dan itulah kisahku masuk agama Islam.” (Tufayl ibn Amr)

Bahkan seorang penyair hebat seperti Tufayl terpesona ketika mendengarkan Al-Qur’an. Dia hanya mendengarkannya dan langsung menjadi seorang Muslim. 

Menurut Sirah Ibn Isya, ada satu kejadian ketika Abu Sufyan, Abu Jahal, dan Abu Annas yang merupakan pemimpin Quraisy, mereka menyelinap keluar dari rumah mereka di malam hari untuk mendengarkan Nabi yang sedang membaca Al-Qur’an.

Umar Ibn Khattab meletakkan Al’Quran yang ia ambil dari adiknya & kemudian dia pergi. Ia pergi ke tempat Nabi “Di mana Muhammad?” dia bertanya. Orang-orang mengatakan: “Muhammad, itu adalah Umar, ia telah datang.” Nabi berkata: “Biarkan dia masuk.” Umar datang dan mengatakan: “Wahai Muhammad, aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang patut disembah kecuali Allah & aku bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah.

“Kalau sekiranya Kami menurunkan al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berpikir.” (al-Hasyr: 21)

Dakwah(Petunjuk) Kepada Siapa? bagian II

seri Al-Qur’an dan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam

bersambung…

Ilham bin Ansar

PD LIDMI Maros | Ketua FK2PI Maros |

(c) 1437H

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *