Lingkar Dakwah

Dialog Lintas Lembaga, LIDMI Bulukumba Tegaskan Tolak LGBT!

Bulukumba —  Makin maraknya praktek Lesbian, Gay, Bisexual, dan Transgender (LGBT) di Bulukumba menggugah para Pimpinan Daerah Lingkar Dakwah Mahasiswa Indonesia (PD LIDMI) Bulukumba untuk mengadakan Diskusi Lintas Lembaga membahas masalah LGBT yang dihadiri oleh beberapa lembaga dan komunitas serta mahasiswa.

Kegiatan yang di gelar pada Sabtu (15/12/2018) ini bertempat di Gedung PKK Kab. Bulukumba dengan mengusung tema ”LGBT dalam perspektif agama, sosial dan kesehatan”, menghadirkan pemateri Ustadz Syamsuar Hamka, Dr. Imam Subekti yang membahas LGBT dari sisi kesehatan, dan Ustadz Ikhwan Bahar Ketua Dai Muda Bulukumba yang membahas LGBT dari sisi sosial keagamaan.

Dalam diskusi ini terungkap bahwa LGBT merupakan salah satu permasalahan atau isu yang muncul di Indonesia khususnya di Bulukumba. Tanpa disadari LGBT telah berkembang pesat dan membentuk beberapa komunitas yang meresahkan masyarakat. Komunitas LGBT dianggap meresahkan karena aktifitas dan gaya berbusana yang melanggar aturan agama dan adat, misalnya laki-laki yang berpakaian menyerupai perempuan, adanya hubungan sesama jenis, dan pesta-pesta yang dilakukan oleh para LGBT yang tidak sesuai dengan norma hukum dan norma agama yang berlaku.

Peserta diskusi lintas lembaga sedang mengajukan pertanyaan

Dalam paparannya, Ust. Ikhwan Bahar, Leader di Majelis Dai Muda Bulukumba yang di kenal gencar menolak segala bentuk prilaku menyimpang dari kaum Waria ini mengatakan, masalah waria ini adalah penyakit

“Untuk menyembuhkannya bukan hanya tugas kami Dai Muda, tapi semua elemen. Pemerintah daerah perlu kita dorong untuk membuat aturan tentang masalah ini, mari bersinergi untuk bersama mencari solusi dari masalah ini dan selamatkan saudara kita para Waria dari penyakitnya,” tuturnya.

Sejalan dengan hal itu, Supriadi Nasir, Ketua PD LIDMI Bulukumba menegaskan, fenomena  LGBT tidak sejalan dengan norma-norma yang dianut oleh masyarakat Indonesia.

“Makanya kami fokus benahi kampus lewat program dakwah dan tarbiyah. Bibit penyakit ini biasanya ada juga di kampus lewat kajian-kajian sekuler yang nyatanya bertentangan dengan agama,” pungkasnya.

Sumber: Bulukumba Pos

Editor: Rustam Hafid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *