Lingkar Dakwah

Dua Pekan Tak Shalat Berjamaah, LIDMI Dirikan Musholla Darurat di Posko Pengungsian Ini

DONGGALA – Akibat Gempa dan Tsunami yang mengguncang Sulawesi Tengah beberapa waktu silam, mayoritas warga yang tinggal di daerah pesisir menyelamatkan diri dengan mendirikan tenda pengungsian di dataran tinggi bahkan pegunungan.

Seperti yang dilakukan oleh warga Desa Salobomba, Kec. Banawa Tengah, Kab. Donggala. Akibatnya, ketika mereka meninggalkan perkampungan, kehidupan serba sederhana harus dijalani di lokasi pengungsian.

Posko pengungsian warga yang terletak di atas bukit

Sebagaimana penuturan relawan LIDMI Peduli, Andi Reski Febriawan, yang mengunjungi lokasi pengungsian tersebut.

Menurut Reski, Warga pengungsian harus hidup tanpa aliran listrik, dengan persediaan air bersih yang sangat terbatas akibat lokasi pengungsian yang berada jauh di atas bukit. Termasuk diantara kekurangannya adalah tempat mendirikan shalat berjamaah.

“Alhamdulillah berkat donasi yang kami kumpulkan, Musholla darurat kami dirikan di lokasi ini, dibantu oleh relawan Lembaga Amil Zakat, Infaq dan Sedekah (LAZIS) Wahdah dan warga setempat,” ujarnya, Ahad (21/10/2018).

Penyerahan bantuan terpal untuk Musholla Darurat

“Alhamdulillah warga memenuhi musholla darurat yang baru saja dibuat, terhitung jumlah jamaah dewasa sebanyak 23 orang, ditambah dengan anak-anak sejumlah 10 orang,” pungkas Reski.

Pendirian Musholla ini mendapat apresiasi dari warga setempat karena telah menghidupkan kembali Shalat Berjamaah sejak Warga meninggalkan pemukiman mereka.

“Tepat tiga pekan kami mengungsi ditempat ini, dan selama itu pula kami tidak pernah melaksanakan sholat berjamaah. Kami hanya melaksanakan sholat di tenda masing masing,” ujar Abdullah, warga setempat.

Shalat Berjamaah Perdana

Usai pendirian Musholla, relawan LIDMI Peduli melakukan trauma healing untuk anak-anak pengungsian yang dilanjutkan dengan sholat Maghrib berjamaah dan Tausiyah kepada warga setempat.

Selanjutnya, Musholla darurat ini akan diisi dengan pengajian anak-anak dan dewasa serta kajian rutin oleh Mahasiswa utusan Sekolah Tinggi Ilmu Islam dan Bahasa Arab (STIBA) Makassar, yang ditempatkan membina posko pengungsian tersebut. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *