Lingkar Dakwah

Gempa Bumi dan Islamisasi Sains, Sebuah Pelajaran Penting

Oleh Andi Muh. Akhyar, S.Pd., M.Sc.

(Dosen Fisika Universitas Muslim Maros dan MSO Pimpinan Pusat Lingkar Dakwah Mahasiswa Indonesia)

 Gempa Bumi Di Lombok

Gempa berkekuatan 7 skala Richter mengguncang Lombok, Nusa Tenggara Barat pada Ahad (5/8/2018). Gempa tersebut menyebabkan sedikitnya 91 orang meninggal dan 209 luka-luka. Sebelumnya, juga terjadi gempa berkekuatan 6,4 skala Richter pada Ahad (29/7/2018) yang menyebabkan 16 orang meninggal dunia.

Dikutip dari news.detik.com (6/8/2018), Kasbani, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kasbani di gedung PVMBG, Kota Bandung, Jawa Barat, Senin (6/8/2018), menjelaskan bahwa gempa yang mengguncang Lombok disebabkan sesar atau patahan aktif jenis sesar naik pada zona sesar busur belakang Flores (Flores Back Arc). Pakar geologi UGM Rovicky Dwi Putrohari menjelaskan Lombok terletak di antara 2 patahan aktif. “Ini daerah patahan yang aktif, maka akan mengalami gempa wajar, patahan Flores berhadap-hadapan. Jadi patahan ini sudah diyakini aktif, katakanlah mulai dari Laut Banda, dari Alor, kemudian di Flores, Sumbawa, sampai utara Pulau Lombok,” papar Rovicky.

Islamisasi Sains

Ketika terjadi gempa bumi di Lombok, baik ilmuan Barat dan ilmuan Islam, keduanya sepakat dengan epistimologi dan penyebab terjadinya gempa bumi. Mereka sepakat bahwa gempa bumi itu terjadi disebabkan sesar atau patahan aktif jenis sesar naik pada zona sesar busur belakang Flores (Flores Back Arc). Namun demikian, meskipun sepakat dengan epistimologinya, ilmuan Barat dan Islam akan berbeda dalam pemaknaannya (ontology).

Barat dengan worldview-nya; sekularisme; tak ada hubungan antara Tuhan dan sains atau telah menghilangkan jejak tuhan di muka bumi (Syed hussein Nasr). Segalanya terjadi begitu saja secara alamiah. Bagi Barat, tugas tuhan hanya membuat alam semesta dan setelah itu semuanya hanya berjalan begitu saja. Ibarat pembuat mobil misalnya, maka peran Tuhan digambarkan Barat hanya sebagai pembuat mobil. Bila mobilnya telah jadi, maka pembuatnya tak punya campur tangan lagi dengan berjalannya kerja-kerja mobil tersebut. Ini merupakan paham deisme, Tuhan telah pensiun.

Oleh karena itu, Barat dengan worldview-nya, gempa bumi adalah sesuatu yang terjadi secara alamiah. Setelah mereka menjelaskan bahwa gempa bumi terjadi karena sesar atau patahan aktif jenis sesar naik pada zona sesar busur belakang Flores (Flores Back Arc), titik. Tak ada pemaknaan lebih lanjut.

Namun bagi ilmuan muslim, dengan konsep tauhid, lebih khsusus konsep tauhid rububiyah Allah subhanahu wata’ala, bahwa Allah subhanahu wata’ala berkehendak dengan segala sesuatu. Allah subhanahu wata’ala  yang menciptakan segalanya, Allah subhanahu wata’ala yang mengatur segalanya, dan Allah subhanahu wata’ala pun yang menakdirkan segalanya. Maka worldview kita sebagai muslim dengan landasan tauhidnya, kita tidak sekedar berkata bahwa gempa bumi terjadi karena dibangkitkan oleh aktivitas sesar atau patahan aktif jenis sesar naik pada zona sesar busur belakang Flores (Flores Back Arc), lalu titik. Ini masih koma! Kita berkata, gempa bumi terjadi karena dibangkitkan oleh aktivitas sesar atau patahan aktif jenis sesar naik pada zona sesar busur belakang Flores (Flores Back Arc), dan itu terjadi atas takdir Allah subhanahu wata’ala. Ini salah satu bentuk islamisasi sains.

Sejak 50 ribu tahun yang lalu, Allah telah menakdirkan bahwa hari ini, jam segini, di sini, akan terajdi gempa bumi, maka gempa bumi tidak terjadi secara kebetulan.Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah telah menulis takdir seluruh makhluk ciptaan-Nya semejak lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.” (HR. Muslim)

Pemaknaan muslim dengan musibah gempa bumi, akan terus berlanjut. Mari kita instropeksi diri. Apakah musibah ini adalah ujian atau adzab dari Allah subhanahu wata’ala. Jika selama ini kita taat, insya Allah ini ujian dari Allah subhanahu wata’ala untuk mengetahui sebesar apa keimanan hambanya. “Apakah manusia mengira mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, “Kami telah beriman“, dan mereka tidak diuji? Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta” (Al ‘Angkabut: 2-3).

Namun bila ini adalah adzab, mari kita instropenksi diri, dosa apa yag telah kita perbuat. Allah telah menegaskan dalam surah Asy Syuraa ayat 30, “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). Ibnu Qoyyim Al Jauziyah dalam Al Jawabul Kaafi Liman Sa-ala ‘anid  Dawaa’ Asy Syafi menuliskan  bahwa Ali bin Abi Tholib Radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Tidaklah musibah tersebut turun melainkan karena dosa. Oleh karena itu, tidaklah bisa musibah tersebut hilang melainkan dengan taubat.”

Ibnu Qoyyim melanjutkan dalam tulisanya. Suatu kali di Madinah terjadi gempa bumi, Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam kemudian meletakkan kedua tangannya di atas tanah dan berkata: “Tenanglah… belum datang saatnya bagimu.” Beliau kemudian menoleh ke arah para sahabat dan berkata: “Sesungguhnya Rabb kalian menegur kalian…maka jawablah (buatlah Allah subhanahu wata’ala ridho kepada kalian)”

Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu pun mengingat kejadian tersebut. Maka ketika terjadi gempa pada masa kekhalifahannya, ia berkata kepada penduduk Madinah: “Wahai manusia, apa ini? Alangkah cepatnya apa yang kalian kerjakan (dari maksiat kepada Allah subhanahu wata’ala)? Andaikata gempa ini kembali terjadi, aku tidak akan bersama kalian lagi”

Umar bin Abdul Aziz Rahimahullah juga tidak tinggal diam saat terjadi gempa bumi pada masa kepemimpinannya. Ia segera mengirim surat kepada seluruh gubernurnya, ia menuliskan:

          “Amma ba’du, sesungguhnya gempa ini adalah teguran Allah Subhanahu wata`ala kepada hamba-hamba-Nya, dan saya telah memerintahkan kepada seluruh negeri untuk keluar pada hari tertentu, maka barangsiapa yang memiliki harta hendaklah bersedekah dengannya, karena Allah Subhanahu wata`ala telah berfirman: “Sungguh beruntunglah orang yang membersihkan diri (tazakka: membersihkan diri dengan taubat ataupun zakat). Lalu dia mengingat nama Tuhannya, lalu ia sembahyang.” (QS.87:14-15).

          Lalu katakanlah apa yang dikatakan oleh Adam AS (saat ia terusir dari surga): “Ya Rabb kami, sesungguhnya kami mendzalimi diri kami dan jika Engkau tak jua ampuni kami dan menyayangi kami, niscaya kami menjadi orang-orang yang merugi.”

          Dan katakan (pula) apa yang dikatakan Nuh ‘alaihissalam : “Jika Engkau tak mengampuniku dan merahmatiku, aku sungguh orang yang merugi”. Dan katakanlah doa Yunus ‘alaihissalam: “La ilaha illa anta, Subhanaka, inni kuntu minadzalimin. Tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang dzalim”.

Oleh karena itu, dengan adanya islamisasi sains semacam ini, tidak hanya menjadikan kita sekedar mengkaji epistimologi gempanya atau sekedar prihatin dengan banyaknya korban jiwa maupun materil. Namun lebih dari itu, seharusnya menjadikan kita lebih dekat kepada Allah subhanahu wata`ala. Masyarakat muslim lombok dan Indonesia pada umumnya harus menjadikan ini sebagai moment instropeksi diri,apakah ini ujian atau adzab? Semoga pemerintah Indonesia pun, selain memberikan perhatin besar terhadap solusi fisikal juga seharusnya memberikan perhatian besar pula pada solusi nonfisikal; mengistruksikan masyarakat Indonesia untuk perbanyak istigfar, taubat, doa, sedekah, dan amal sholeh lainnya. []

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *