Lingkar Dakwah

Fenomena Gerhana : Ini Perbedaan Mitos, Sains dan Islam!

Oleh: Syamsuar Hamka

(Peneliti Filsafat Sains, Wakil Ketua PP LIDMI)

Setiap masyarakat memiliki sistem kepercayaan yang berbeda dalam memahami gejala atau fenomena alam. Jika zaman dahulu, hasil-hasil pangan yang diolah manusia sangat bergantung kepada alam, kini dengan bantuan sains dan teknologi hasil tersebut sudah bisa dikontrol dan dimanipulasi.

Berdasarkan pandangan itulah masyarakat dianggap berkembang ke arah yang lebih rasional. Mengutip pendapat Van Persuen, Jujun membagi perkembangan kebudayaan menjadi tiga fase, yaitu tahap mistis, ontologis dan fungsional. Tahap mistis maksudnya adalah tahap dimana sikap manusia merasakan dirinya terkepung oleh kekuatan-kekuatan gaib di sekitarnya. Tahap ontologis, dimana manusia tidak lagi merasa terkepung dan sudah mengambil jarak dari objek di sekitarnya. Sedangkan tahap fungsional, adalah sikap manusia yang bukan saja merasa telah terbebas dari kepungan kekuatan gaib dan mempunyai jarak atas objek di sekitarnya, namun dia memfungsionalkan pengetahuan tersebut bagi dirinya.

Pandangan demikian sangat sarat akan Filsafat Positivisme digagas oleh Auguste Comte. Ia berkeyakinan bahwa masyarakat berevolusi dalam tiga fase teoretis. Fase Teologis, yang menurutnya adalah tahap dimana manusia berada dalam keyakinan-keyakinan fiktif. Fase Metafisik, manusia mengganti penyebab fenomena alam dengan hal-hal abstrak, atau entitas-entitas nyata. Fase Saintifik, dimana manusia sepenuhnya bersandar pada sains.

Berkaitan dengan fenomena gerhana matahari, kita juga bisa meringkaskan ada tiga pandangan yang menafsirkannya. Apalagi menurut perhitungan astronomi, peristiwa Gerhana Matahari Total akan terjadi pada Rabu 9 Maret 2016 bertepatan dengan tanggal 29 Jumadilawal 1437 H. Dikabarkan bahwa peristiwa langka ini akan melintasi 11 wilayah di Indonesia, yaitu: Palembang, Bangka, Belitung, Sampit, Palangkaraya, Balikpapan, Palu, Poso, Luwuk, Ternate, dan Halmahera.

Menurut Mitos

Bangsa Viking menganggap bahwa gerhana matahari muncul karena ulah dari Sköll, manusia serigala yang memburu Dewa Matahari yang bernama Sol. Ketika serigala itu melahap matahari, mereka yang berada di bumi diminta membuat suara sebising mungkin agar hewan itu memuntahkannya.

Masyarakat Tiongkok kuno juga melakukan cara yang hampir sama untuk ‘membawa kembali’ matahari. Mereka menganggap bahwa naga telah ‘melahap’ Matahari. Sehingga mereka berusaha membuat naga untuk memuntahkannya. Selain itu, gerhana juga digunakan sebagai cara untuk meramalkan kesehatan dan kesejahteraan bagi Kaisar Tiongkok. Akan tetapi, para ahli meteorologi yang salah memprediksi tanggal kemunculan gerhana, pada beberapa kasus akan dihukum penggal.

Dalam mitologi Hindu, Rahu si iblis dipenggal kepalanya oleh Dewa Wisnu karena meminum nektar yang diperuntukkan bagi dewa-dewa. Kepala si iblis melayang melintasi langit, dan ia pun menelan matahari.

Berbeda lagi di Vietnam kuno, yang percaya bahwa gerhana matahari terjadi karena kodok raksasa makan Matahari. Sementara, cerita rakyat Korea menuturkan bahwa seekor anjing mistis mencuri matahari, mengakibatkan terjadinya gerhana matahari. Sementara Pada peradaban awal Amerika, suku Maya atau Aztec berpendapat bahwa gerhana disebabkan hilangnya matahari.

Sehingga denga keyakinan yang sama oleh Bangsa Viking dan Tiongkok Kuno, mereka memukul-mukul panci dan peralatan masak. Tujuannya membuat bunyi nyaring pada saat terjadi gerhana agar si iblis tersebut melepaskan matahari sehingga bumi kembali terang.

Menurut Sains

Menurut Astronomi, gerhana matahari terjadi ketika posisi bulan terletak di antara Bumi dan Matahari, sehingga menutup sebagian atau seluruh cahaya Matahari.

Gerhana matahari dapat terjadi jika umbra dan atau penumbra bulan jatuh ke permukaan bumi. Karena bulan jauh lebih kecil daripada matahari, bayang-bayang bulan yang jatuh mengenai permukaan bumi hanya melingkupi luasan yang sempit saja. Walaupun Bulan lebih kecil, bayangan Bulan mampu melindungi cahaya Matahari sepenuhnya karena Bulan yang berjarak rata-rata jarak 384.400 kilometer dari Bumi lebih dekat dibandingkan Matahari yang mempunyai jarak rata-rata 149.680.000 kilometer.

 

Bumi sebagai planet pengiring berukuran jauh lebih kecil dari Matahari. Demikian juga Bulan yang merupakan pengiring Bumi. Akibatnya keduanya akan membentuk bayang – bayang planet atau bayang – bayang satelit alam yang mengiringi planet dengan bentuk kerucut bayang – bayang umbra (bayangan inti).  Bentuk kerucut bayang – bayang umbra itu, diapit oleh kawasan penumbra (bayang-bayang kabur di luar bayangan inti).

Gerhana matahari tidak terjadi setiap bulan, disebabkan kemiringan orbital bulan adalah sekitar 5o dari orbit planet Bumi-Matahari (Earth-Sun Orbital Plane). Sehingga maksimal, dalam setahun hanya terjadi dua kali posisi bulan berada diantara bumi dan matahari secara sejajar.

Menurut Islam

Sebagai sebuah sistem ilmu yang berparadigma wahyu, islam memandang bahwa gerhana matahari adalah satu diantara ayat-ayat Allah SWT. Artinya, gerhana matahari adalah tanda-tanda kekuasaan Allah yang mengatur, menjaga dan memelihara alam semesta dengan hikmah dan keadilan-Nya. Dalam al-Qur’an allah sebutkan,

”Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah kaliann sujud (menyembah) matahari maupun bulan, tapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika memang kalian beribadah hanya kepada-Nya.” (Fushshilat: 37)

Selain itu disebutkan dalam satu hadits Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam,

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللهِ لاَ يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ, وَلاَ لَحِيَاتِهِ, فَإِذَا رَأَيْتُمُو هُمَا فَادْ عُوا اللهَ وَصَلُّوا حَتَّى تَنْكَشِفَ

Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua ayat (tanda) di antara ayat-ayat Allah. Tidaklah terjadi gerhana matahari dan bulan karena kematian seseorang atau karena hidup (lahirnya) seseorang. Apabila kalian melihat (gerhana) matahari dan bulan, maka berdoalah kepada Allah dan sholatlah hingga tersingkap kembali.(HR. Al-Bukhari no. 1043, dan Muslim no. 915)

Sahabat Abu Musa al-Asy’ari Radhiallahu ’anhu mengatakan, Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”Tanda-tanda ini, yang Allah tampakkan, bukanlah terjadi karena kematian atau kelahiran seseorang. Namun dengannya Allah memberikan rasa takut kepada hamba-hamba-Nya. Maka apabila kalian melihat salah satu darinya, bersegeralah untuk berdzikir, berdoa kepada-Nya dan memohon ampunan-Nya.” (HR. Al-Bukhari no. 1059).

Sehingga disyariatkan dalam islam untuk melaksanakan Shalat Gerhana (Kusuf) di daerah dimana fenomena ini teramati.

Pandangan Islam melihat fenomena alam sebagai satu kesatuan, antara ilmu pengetahuan dan iman. Bahwa setiap fenomena alam tidak bisa dilepaskan dari unsur metafisik. Gerhana, bukan sekedar gerhana, tetapi ia adalah tanda agar manusia semakin mengakui keberadaan unsur transendetal yang berada di luar alam semesta ini. Dialah Allah SWT.

Untuk menutup tulisan ini, Penulis pernah membaca Pembagian Ulama terhadap tiga jenis tingkatan manusia menurut cara mereka memandang bulan. Pertama, Orang yang hanya menyandarkan pada inderanya. Bahwa bulan itu kecil, sekecil ukuran yang kita lihat. Orang ini adalah orang yang tidak berilmu. Kedua, orang yang menyatakan bahwa bulan itu, meski kecil terlihat, namun ia sesungguhnya berukuran besar, sebab pengukuran lewat alat teknologi dan akal matematis kita menunjukkan bulan berdiameter 3.474 Km. Orang ini adalah orang berilmu karena menggunakan indera dan akalnya. Sedangkan orang ketiga, adalah orang yang melihat bulan dan meyakini ukurannya yang besar, namun ia mengatakan, “Bulan memang besar, namun yang lebih besar adalah penciptanya, Allah SWT”. Orang ini adalah orang yang menggunakan qalbu-nya secara optimal. Indera dan akalnya tidak cukup menjadi sandaran kebenaran, namun ia berakhir pada penyerahan diri dan ibadah total kepada Tuhannya.

Dengan demikian, pembagian Auguste Comte yang menyatakan bahwa masyarakat paling maju adalah masyarakat saintifik adalah sesuatu yang mesti ditinjau kembali. Sebab Seseorang ilmuwan, bisa tetap beragama dengan baik dan benar. Ia masih bisa menjadi seorang yang objektif, cerdas dan berkemajuan, tanpa melepaskan pandangan keimanannya. Wallohu a’lam bi as-Showab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *