Lingkar Dakwah

Guru dan Krisis Moral Generasi

Oleh: Abid Fauzan (Dewan Syuro PP LIDMI)

Pada hari ini 25 November 2018 tepatnya 73 tahun lalu para guru berkumpul dengan semangat proklamasi 17 Agustus 1945 ketika itu, penyelenggaraan Kongres Guru Indonesia pada tanggal 24-25 November 1945 di Surakarta. Di dalam kongres ini, 25 November 1945, seratus hari setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) didirikan. Sekaligus juga dijadikan hari guru nasional.

Guru adalah pondasi perbaikan generasi. Merekalah yang mengajarkan para generasi untuk lebih baik. Pembangunan manusia ada ditangan seorang guru. Membangun manusia seharusnya dilakukan sebelum membangun apapun. Dan itulah yang dibutuhkan oleh semua bangsa di semua lini kehidupannya.

Ada sebuah pendapat yang mengatakan bahwa apabila ingin menghancurkan peradaban sebuah bangsa, ada tiga cara untuk melakukannya, yaitu:
1. Hancurkan tatanan keluarga
2. Hancurkan pendidikan
3. Hancurkan keteladanan dari para guru (tokoh, ulama, ustadz, habaib)

Maka harusnya guru mendapat peran lebih dari semua pihak khususnya pemerintah. Namun realisasinya peran guru terabaikan. Ini bisa dilihat dengan rendahnya kualitas pendidikan di negeri ini. Banyak penelitian dunia menyebutkan hancurnya pendidikan di Indonesia. Mereka menempatkan Indonesia sebagai urutan bawah dalam hal kualitas pendidikan.

Pendidikan kita hancur karena terabaikan peran orang tua dan guru dalam mendidik anak anak. Biarkan budaya sogok dan nyontek dalam ujian di lembaga pendidikan. Kurangi penghargaan terhadap para guru dan biarkan mereka beralih perhatian sebagai pendidik dengan berbagai macam kewajiban administratif, dengan tujuan materi semata, hingga mereka abai terhadap fungsi utama sebagai pendidik, sehingga semua siswa meremehkannya dan output alumni dari lembaga pendidikan tidak sesuai dengan riil kompetensi, karena bisa masuk dengan nyogok dan lulus karena nyontek. Jika jadi dokter, akhirnya bisa jadi malpraktek, jadi insinyur, bangunannya jadi rontok, jadi pemangku jabatan ujung-ujungnya koruptor.

Apabila para guru (ibu, ulama, tokoh) yang ikhlas lenyap sudah hilang, maka siapa lagi yang akan mendidik generasi dengan nilai-nilai luhur?
Itulah awal kehancuran yang sesungguhnya. Saat itulah kehancuran bangsa akan terjadi, sekalipun tubuhnya dibungkus oleh pakaian mewah, bangunan fisik yang megah, dan dibawa dengan kendaraan yang mewah.
Semuanya tak akan berarti apa apa, rapuh dan lemah tanpa jiwa yang tangguh.

*Realitas generasi saat ini*

Belum lama ini, Direktur Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Lampung Dwi Hafsah Handayani mengungkapkan temuan mengejutkan. Ia menemukan satu SMP di Lampung yang 12 siswinya hamil. Hafsah pun menyampaikan, ia pernah melakukan survei ke apotek di sekitar kampus dan daerah kos-kosan. Dari survei tersebut diketahui, ada sekitar 100 kondom terjual dalam satu bulan.

Di Cikarang, pihak sekolah di satu SMPN Cikarang Selatan berhasil membongkar jaringan mesum siswa-siswi mereka yang tergabung dalam satu grup aplikasi percakapan Whatsapp. Grup itu beranggotakan 24 siswa-siswi kelas IX dari berbagai kelas. Kasus itu terbongkar saat pihak sekolah merazia handphone milik siswa. Berbagai percakapan tidak senonoh, berbagai video porno hingga ajakan berbuat asusila dan tawuran, beredar di grup tersebut.

Pada tahun 2017, Indonesia Police Watch (IPW) melalui Ketua Presidium-nya Neta S Pane menyatakan bahwa remaja Indonesia terbelit persoalan seks bebas dan LGBT. Terkait LGBT, baru-baru ini terungkap adanya grup gay pelajar SMP di Garut. Menurut Wakil Bupati Garut, sebagaimana dikutip Detik.com baru-baru ini, jumlah mereka ada ribuan orang.

IPW pun mencatat, di sepanjang tahun 2017 ada 178 bayi yang baru dilahirkan di buang di jalan. Jumlah ini naik 90 kasus di banding tahun 2016. Menguatkan temuan IPW, Data National Programme Officer United Nations Population Fund menunjukkan angka kehamilan yang memprihatinkan di kalangan remaja. “Angka kehamilan pada remaja usia 15-19 tahun mencapai 48 dari 1.000 kehamilan. Data terakhir menunjukkan, ada 1,7 juta remaja di bawah usia 24 tahun yang melahirkan setiap tahun,” kata Margaretha pada 27 Agustus 2017.

Selain rawan kehamilan di luar pernikahan, seks bebas di kalangan remaja juga berpotensi menimbulkan ancaman penyakit menular seksual (PMS), termasuk HIV/AIDS. Ketua Satuan Tugas Remaja Ikatan Dokter Indonesia (IDAI) dr. Bernie Endyarni Medise, SpA(K) dalam seminar media Pekan Kesehatan Remaja di kantor IDAI, Jakarta, Jumat, 16 Maret 2018, menyebutkan ada 150 ribuan remaja Indonesia terpapar HIV/AIDS.

*Peranan Pemerintah*
Selama ini Negara di nilai abai terhadap pembinaan moralitas remaja. Sebahagian besar menilai persoalan moral di pandang sebagai urusan personal, bukan menjadi tanggung jawab negara. Misalnya negara lebih sibuk menangani korban aborsi ataupun penularan penyakit kelamin, termasuk HIV/AIDS di kalangan remaja. Seharusnya Negara mengambil kebijakan dan tindakan preventif (pencegahan). Selama ini negara terlihat lebih banyak mengambil kebijakan kuratif, dan menangani korban pergaulan bebas.

Salah satu cara pencegahan adalah memperhatikan pendidikan dengan memberikan kesejahteraan guru. Baru-baru ini para guru honorer mendemo meminta di angkat jadi PNS. Ini bukti kesejahteraan guru perlu diperhatikan.

Maka dalam momentum hari guru ini semoga perbaikan generasi lebih di tingkatkan lagi khususnya kualitas pendidikannya. Guru mendapatkan kesejahteraannya. Pemerintah lebih memperhatikan guru dan pendidikan generasi.. Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *