Lingkar Dakwah

Islamisasi Skripsi Aktivis Dakwah Kampus

Oleh: Abu Hasan Al-makassari

Semua mahasiswa yang ingin menyelesaikan strata satu pasti akan menjalani penulisan skripsi. Tulisan ilmiah yang berdasarkan penelitian pada fakultas dan jurusan masing-masing mahasiswa. Setelah menyelesaikannya, maka gelar strata satu dapat disandang.

Begitupun mahasiswa aktivis dakwah kampus pasti juga merasakannya. Namun, sebagai aktivis dakwah kita tentunya berpikir untuk memanfaatkan skripsi sebagai lahan dakwah. Salah satu caranya adalah membuat skripsi dengan tema Islami.

Skripsi dengan tema Islami mungkin sudah sering kita dengarkan. Biasanya hal tersebut diajukan para aktivis dakwah secara individu. Saya belum pernah mendapatkan informasi mengenai Lembaga Dakwah Kampus (LDK) yang memiliki program kerja penulisan tema Islami skripsi. Lebih tepatnya program kerja wajib menulis tema skripsi Islami bagi semua anggota. Hal ini tentunya diperuntukkan bagi kampus umum yang memiliki aktivis dakwah. Jika kampusnya Islami pastinya skripsinya dengan tema Islam.

Mengapa harus wajib? tentu saja yang dimaksud di sini bukanlah sewajib perintah sholat dan ibadah wajib lainnya. Namun, hal ini hanyalah sebuah penekanan agar semua aktivis dakwah kampus berkontribusi di dalamnya.

Semakin banyak yang berkontribusi, maka pengaruhnya akan semakin besar. Jika semakin membesar, diharapkan kedepannya akan menjadi budaya di kalangan aktivis dakwah. Ia akan menjadi sebuah gerakan baru yang menunjukkan kekuatan Islam dalam bidang literatur ilmu pengetahuan.

Jangan ada lagi yang mengaku aktivis, namun skripsi masih konvensional, apalagi sampai sekuler. Terutama ketika Islamisasi sains belakang ini sering didengungkan. Hal ini dapat menjadi langkah awal dan konkret mewujudkan Islamisasi sains.

Namun, terkadang hal ini masih sulit bagi beberapa mahasiswa, terutama untuk mencari tema-tema spesifik pada fakultas dan jurusan tertentu. Karena itu, LDK Sebagai salah satu organisasi Islam kampus perlu mendorong pengorganisasian penyelesaian hal ini.

Adapun beberapa solusi:

1.Membangun hubungan dengan dosen pembina untuk memberikan saran. Biasanya dosen pembina LDK atau LDF punya saran yang cukup bagus. Wawasan mereka tentunya lebih luas terkait masalah ini.

2.Memberikan bantuan kepada mereka yang kesulitan mencari tema atau judul dengan mengadakan diskusi. Saran, tanggapan dan pertanyaan dalam diskusi tentunya dapat memberikan ide-ide tambahan dalam menentukan tema.

3.Mengadakan skripsi dengan satu wacana dengan berbagai tema agar mudah dalam proses diskusinya. Contoh, Fakultas ekonomi mengangkat ekonomi Islam, kemudian dibagi dalam beberapa tema seperti, bank Islam, riba, gharar, lembaga keuangan Islam, Bmt, dll.

Konversi jadi buku

Konon kabarnya skripsi hanya dibaca oleh segelintir orang saja. Dibaca oleh pembuat, pembimbing, penguji dan penjilid. karena itu, skripsi sering dianggap tidak memberikan pengaruh yang besar terhadap terhadap masyarakat secara langsung.

Salah satu strategi yang juga perlu dilirik oleh aktivis dakwah kampus adalah mengonversi skripsi Islam menjadi buku. Konversi disini adalah dengan merubah skripsi menjadi buku yang dapat dibaca oleh masyarakat. Terutama mengubah bahasa ilmiah agar lebih mudah dipahami.

Bayangkan jika program wajib skripsi Islam dilakukan oleh 100 orang saja tiap tahun. Maka, setiap tahunnya akan lahir 100 buku hasil konversi. Jelas 100 buku tersebut akan menambah khazanah literasi umat Islam.

Oleh karena itu, saya mengharapkan suatu hari, ide ini dapat terwujud. Meskipun dari sebuah langkah kecil. Lebih-lebih lagi jika seandainya terwujud dapat memberikan pengaruh besar terhadap kemajuan Islam di masa datang.[]

Wallahu A’lam Bishshawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *