Lingkar Dakwah

Jika Misi Diplomasi Gagal, Kesepakatan Dikhianati ; Apa yg Harus Kita Lakukan untuk Muslim Rohingya ? (Bag. 1)

Muslim Rohinya

Oleh; A.sH_Pelajar Law and Politics King Saud University

Air mata dan darah pewaris sah negeri Arakan terlanjur mengalir, menyatu bersama Samudra Hindia. Kobaran api Rohingnya sudah terlanjur membara dan membakar 7 Samudra. Ada gemuruh tangis dalam dada setiap Muslim dan manusia yang menyaksikan kebiadaban penguasa Myanmar. Mendidih. Setiap muslim yang mengerti hakikat persaudaraan, pasti akan merasakan luka dan sakit yang dirasakan oleh saudaranya di belahan bumi manapun berada.

Apakah misi diplomasi pemerintah Indonesia mampu memadamkan kobaran api ini? Apakah dengan kunjungan dan pertemuan tanpa ada gertakan ataupun tekanan mampu mengembalikan harga diri, mengobati luka dan rasa sakit yang sudah terlanjur menganga? Sebagai pelajar di sekolah hukum saya sangat menghargai upaya-upaya yang telah dilakukan negara hingga saat ini. Termasuk 11 pihak yang telah tanda tangani MoU Aliansi Kemanusiaan Indonesia untuk Myanmar (PP Muhammadiyah, PBNU, PKPU Human Initiative, Dompet Dhuafa, Rumah Zakat, Dompet Peduli Ummat-Daarut Tauhid, LAZIZ Wahdah, ACT, LAZIZ Dewan Da’wah Indonesia, Social Trust Funding, Syarif Hidayatullah Jakarta).

Tentu saja upaya-upaya ini adalah jalan damai yang bisa ditempuh oleh negara dengan karakteristik ramah seperti Indonesia (meskipun kenyataannya sudah terbukti, adanya upaya pembungkaman terhadap ormas Islam yang kritis dan berpihak kepada yang berada di luar pemerintahan). Mungkin negara kita sangat lembut sehingga penggunaan sanksi ekonomi apalagi penggunaan tekanan belum pernah diwacanakan, meskipun langkah ini sesuai dengan prinsip hukum Internasional.

Pertanyaan pentingnya adalah; Jika misi diplomasi telah dijalankan, perjanjian kesepakatan telah dicapai, tapi ternyata pembantaian masih terus berlanjut (tentu tidak kita harapkan) apa yang akan dilakukan oleh negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia ini? Bukan berarti kita pesimis dengan upaya yang ada, apalagi mengangankan suatu keburukan, tapi ini adalah fakta yang telah berulang. Bukankah belum lama ini Presiden Jokowi telah bertemu langsung pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi dengan memperbincangkan stabilitas Myanmar dan stabilitas kawasan? Bukankah baru tahun lalu Menteri Luar Negeri RI, Retno Marsudi juga bertemu dengan pemimpin Myanmar dengan membahas sejumlah isu, termasuk soal Rohingnya? Lalu kesepakatan apa yang telah dicapai? Perdamaian apa yang telah dihasilkan?

Ketika negeri kita Indonesia tercinta berpesta bahagia merayakan hari-hari kemerdekaannya, kembali puluhan ribu Muslim Rohingnya terusir dan melarikan diri dari tanah tumpah darahnya. Ketika wanita dan anak-anak negeri ini tertawa sumringah menikmati perayaan kemerdekaan dengan lomba makan krupuk, panjat pinang atau lomba tangkap kecebong, ada ribuan Muslim termasuk wanita dan anak-anak dibantai dan diperkosa dengan sadis. Ada puluhan desa di Arakan dibumi hanguskan. Wahai para penguasa yang telah menikmati kemerdekaan, ke mana hati kalian letakkan? Sampai kapan penderitaan Muslim Rohingnya harus terus berulang? Padahal sejarah telah membuktikan bahwa mereka sudah ada sebelum Myanmar ada. Di sana, di negeri Arakan; telah berlangsung kehidupan damai selama 3,5 abad dalam naungan Islam. Seluruh dunia juga sudah tau siapa yang mulai menghancurkan perdamaian. Setelah menginjak-injak nilai-nilai cinta, perdamaian dan keadilan, kemudian berteriak mengaku sebagai penjaga perdamaian dunia. Hey, di mana kalian para pasukan penjaga perdamaian dunia?

Ummat Islam yang memiliki izzah memang seharusnya tidak perlu berharap banyak pada manusia. Jika Misi Diplomasi Gagal, Kesepakatan Dikhianati ; Maka langkah pertama yang harus kita lakukan adalah memohon pertolongan dan kekuatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla seperti penggalan do’a yang diulang-ulang pada salah satu rangkaian ibadah ketika sedang menjalankan ibadah haji atau umrah.

“Tiada sesembahan yang berhak disembah kecuali hanya Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya lah segala kerajaan dan segala pujian untuk-Nya. Dia yang menghidupkan dan yang mematikan. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Tiada sesembahan yang berhak disembah kecuali hanya Allah semata. Dialah yang telah melaksanakan janji-Nya, menolong hamba-Nya dan mengalahkan tentara sekutu dengan sendirian.”

Salam,
Love, Peace & justice

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *