Lingkar Dakwah

Kemerdekaan adalah Tanggung Jawab Kita

Oleh: Zulkifli Tri Darmawan
(Anggota Departemen Infokom Pimpinan Pusat Lingkar Dakwah Mahasiswa Indonesia)

“Merah darahku adalah ungkapan bahwa semangat yang berkobar tidak akan padam hingga tetesan darah terakhir, dan putih tulangku adalah mental baja yang tidak akan pernah pudar walau panasnya peluru menembus tubuh.”

Mungkin Anda pernah mendengar orasi-orasi yang mengatakan bahwa Indonesia sudah merdeka namun masih dijajah. Apakah hal itu benar? Ungkapan tersebut tentu tidak sepenuhnya benar. Sejarah Indonesia dapat diibaratkan seperti kehidupan seseorang. Ketika sudah mencapai puncak, apa itu artinya perjuangan telah selesai? Tidak.

Seseorang masih akan terus berjuang agar bisa bertahan pada posisi tersebut. Maka dari itu, ada yang disebut dengan upaya mengisi kemerdekaan. Yakni melakukan tindakan-tindakan yang dimaksudkan untuk mempertahankan negara dalam kondisi yang baik atau menjadi lebih baik. Nah, pertanyaan berikutnya adalah, bagaimana cara mengisinya?

Dalam perjalanan sejarah peradaban Islam, pemuda telah menjadi tonggak kebangkitan umat serta sumber kekuatan pembela terhadap akidah dan ideologi. Mereka adalah tulang punggung sebuah bangsa. Akalnya masih sehat berpikir, tenaganya masih kuat, lisannya masih lincah mengolah kalimat dan orasi-orasi.

Sesungguhnya Islam tidak bisa dilepaskan dari pemuda karena Islam itu sendiri tumbuh dan besar karena banyaknya pemuda berkualitas sebagai kader-kadernya. Begitu pula dengan eksistensi kemerdekaan yang diraih oleh Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Ternyata kaum pemuda memiliki peranan penting dalam mewujudkannya. Penjajahan panjang yang telah dilakukan oleh kolonial asing telah menjadi latar belakang bagi pemuda bangsa kita untuk harus berdiri sendiri.

Bagaimana dengan hari ini? Masihkah kontrol sosial tetap berlaku? Atau gerakan kita masih biasa-biasa saja. Bayangkan, jika negeri ini telah diambang kehancuran, lantas pemudanya malah memilih diam dan bungkam. Sementara emak-emak sudah keluar dari dapur-dapurnya, tak kalah lantang, mereka menyuarakan aspirasinya—tanpa bayaran, tanpa tekanan.

Padahal, semestinya kontrol terhadap perbaikan di negeri ini, haruslah dilakukan oleh orang-orang yang gesit, masih prima, dan memiliki sisi intuisi bernegara yang jelas dan terarah. Maka pemudalah yang menjadi pilihannya. Sebab, mereka punya potensi itu. Mereka punya kesempatan untuk menggaungkan semangat perubahan.

Banyak pilihan. Banyak cara untuk mengisi kemerdekaan itu. Hal ini dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur atas nikmat merdeka yang Allah berikan kepada bangsa ini. Modal utama bangsa ini adalah pemuda di kampus (mahasiswa). Maka bagaimana peran para mahasiswa atau pemuda dalam mengawal kebangsaan kita?

Mahasiswa berada di depan perubahan sebuah sejarah demokrasi dunia. Mahasiswa  merupakan sebuah entitas spirit yang menggunakan intelektualitas dan dialektika yang maha dahsyat kekuatannya. Mahasiswa memiliki kekuatan energi penuh dengan sifat kreatif, kritis dan dinamis serta kepekaan yang tinggi pada masalah sosial.

Mahasiswa yang merupakan satu satuan karakter, mampu menjadi satu gerakan besar yang bukan saja memperjuangkan suatu tujuan, namun berupaya membuat sejarah baru dalam sebuah pembangunan masa depan suatu bangsa. Mereka mampu menggores sejarah sebuah bangsa, jejak peradaban atau jejak kelam—tergantung bagaimana energi kemerdekaan para leluhurnya mampu mereka serap dalam bentuk aksi nyata di lapangan.

Gerakan mahasiswa masih dipercaya oleh masyarakat mampu membawa perubahan. Hal ini dikarenakan pergerakan mahasiswa masih disi oleh nilai-nilai kaum muda yang identik dengan gerakan moral yang bertumpu pada empati dan simpati terhadap lingkungannya, masyarakatnya dan bangsanya, sehingga menumbuhkan semangat keberpihakan pada rakyat, serta menjadi jembatan bagi dunia akademik dan masyarakat. Gerakan mahasiswa merupakan gerakan murni kepedulian yang penuh dengan analisis intelektual untuk perubahan.

Kemerdekaan adalah tanggung jawab kita. Oleh kaum muda, kemerdekaan adalah wadah kita membangun peradaban. Sarana kita menumbuhkan nilai-nilai maslahat bagi ummat dan bangsa. Selebihnya, merupakan tantangan bagi kita dalam mewujudkan Indonesia yang bermartabat, agar tak dipandang sebelah mata oleh bangsa-bangsa lain di dunia ini.

Satu cara sederhana bagaimana pemuda bisa mengisi kemerdekaan ini dengan bijak adalah dengan berusaha memanfaatkan segala potensi yang ada pada dirinya degan sebaik-baiknya. Bekerja dengan gigih, mewujudkan cita-citanya, demi mengabdikan diri bagi pembangunan bangsa. Pemuda muslim pun harus tetap menjaga persatuan dan keutuhan bangsa. Menjadikan ide-ide mereka sebagai langkah solutif bagi perbaikan moral dan akhlak generasi muda.

Mereka juga harus mendukung produk dalam negeri dengan mengenalkan karya dan budaya Indonesia kepada dunia. Langkah ini merupakan sebuah manifestasi dari karakter utuh sosok pemuda muslim yang harus tampil menjadi pribadi yang kreatif dan inovatif.

Sesungguhnya kemerdekaan ini adalah tanggung jawab kita bersama. Ia adalah sebuah nikmat yang patut kita syukuri. Sebab terbebasnya kita dari tirani kezaliman beratus-ratus tahun lamanya telah membuat bangsa ini sudah cukup menderita. Hak beragama di rampok, tambang-tambang dikerok habis, bahkan membebani rakyat kita dengan utang yang luar biasa banyaknya.

“Sungguh, jika kamu bersyukur, Aku pasti memberi tambahan nikmat dan karunia kepadamu. Akan tetapi jika kamu ingkar, sungguh, azab-Ku sangat dahsyat. Musa berkata, “Jika kamu tidak bersyukur, kamu dan semua orang di muka bumi ini, sungguh Allah Maha Kaya, Maha Terpuji.” (Terjemahan QS 14:5-8)

Bagaimana kondisi bangsa kita pada hari ini? Ada yang bilang kita telah kehilangan sosok pemuda yang kritis. Tidak seperti saat kita masih di era orde baru. Kemana mereka? Kemana suara mereka saat negeri ini sedikit demi sedikit merasakan kesakitan tak berkesudahan? Maka diakhir tulisan ini.

Kami ingin menegaskan, bahwa kemerdekaan itu harus kita jaga. Kita wajib mengisinya dengan hal-hal yang positif. Kita harus tegas terhadap posisi kita sebagai bangsa yang terhormat. Tidak boleh ada intervensi dari pihak luar, dari manapun asalnya. Sebab, hadiah kemerdekaan itu dari Allah Subhanahu wa ta’ala. Dan untuk menjaganya, perlu kerjasama dari semua elemen bangsa, utamanya PEMUDA ISLAM. []

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *