Lingkar Dakwah

Ketika Raja Salman hendak berkunjung ke Indonesia, lagi-lagi ribut

Ribut-ribut-ribut kata upin. Bukan ribut kenapa dia datang, tapi ribut dengan gorengan.

Gorengan sampah dari kutub tak berbatas orang liberal dan kutub taklid buta dari orang yang merasa memiliki “syurga” sendiri.

Sampah digoreng di minyak jelantah, tidak tau kapan harus membalik gorengannya karena memang minyaknya berwarna hitam. Hitam penuh kebencian yang tidak berkeadilan. Musuh adalah adalah musuh. Yang penting musuh dijebak, masuk perangkap kemudian kita habisi lalu kita goreng. Padahal Sang Kekasih Rasulullah Shallallahu’alahi wasallam dan sahabatnya tidak demikian. Bahkan Allah memberi pedoman dalam Alquran, tetaplah berbuat adil, walaupun kalian benci kepada kekafiran.

Kutub-kutub saling bertautan. Berhubungan dengan garis khayal khatulistiwa. Kutub ribut, ribut tak berdaya. Meributkan antara jenggot dan sorban, gamis dan cadar. Mereka mempermasalahkan negara Islam “katanya” tapi liburan ke Bali. Waw, syurga dunia menurut mereka. Bahkan, kolotnya sebagian orang terdidik mereka mengatakan “liburan ke Bali, mungkin Raja sudah lelah dengan Syariat Islam”. Dualisme sekuler.

Karena tidak bersorban dan bergamis serta berjenggot, mereka merasa boleh-boleh saja menikmati “syurga” dunia di Bali. Padahal, Tuhannya orang berjenggot dan bergamis adalah sama dengan Tuhannya orang tak berjenggot dan bersorban yaitu Allah. Ente harusnya takut sama Allah, bukan takut dengan gaya berpakaian saja. Nah kan, sudah saya bilang dualisme pemikiran jelantah, pemikiran sekuler.

Sampah terus digoreng di minyak jelantah. Sampah kering akhirnya gosong. Ya, bahan gorengan diatas tentang Arab. Kerajaan Saudi Arabia. Yah, kasian juga raja Salman Hafidzahullah.

Ada juga yang menggoreng tidak adil. Karena benci dengan gorengan, akhirnya bertingkah. Sekarang digoreng, besok dikukus, lusa dibakar, semua sesuai kebutuhan. Kebutuhan untuk menjatuhkan harga diri seseorang, bahkan harga diri seorang Muslim tak jadi soal. Syurga di kapling. Anehnya, kaplingnyapun sengketa. Disengketakan hanya karena perbedaan furu’iyyah semata. organisasi itu sesat, tarbiyah sesat, namun memutus silaturahim tidak sesat. akhirnya kekuatan terpecah. Pecah seperti telapak kaki kekeringan.

NB : Tapi kalau berbeda aqidah mungkin iya, wajib dan tidak boleh kita sengketa. Kafir tetap kafir. pada bagian ini kita sepakat.

Lalu, gorengan berkembang menjadi Arab dan Cina. Satu menggoreng, satu membakar. Disebar lewat neuron-neuron media sosial tanpa tabayyun. Saya tidak mengerti tentang Arab dan Cina. Yang saya ketahui, Arab adalah salah satu bangsa yang telah berkorespondensi lama dengan Indonesia, dengan para Ulama di Indonesia. Cina adalah negara yang telah lama menjalin kerja sama dengan Indonesia. Toh Kalau mereka curang, kita tetap harus bertahan sebagai Indonesia.

Tidak usah risau kawan, duniaji ini. Tidak perlu bangga menjadi Arab, tidak perlu risau ada yang mengubah “kiblat” ekonomi ke Cina, karena kita tetap harus seperti sedia kala, tetap menjadi Indonesia. Saya bangga menjadi Indonesia.

Menjadi Indonesia adalah bertahan dengan Ketuhanan yang Maha Esa, menjadi indonesia adalah berkeadilan, menjadi indonesia adalah kesejahteraan, menjadi Indonesia adalah persatuan.

Indonesia adalah tanah air kita, tempat kita berpijak. Menjadi Indonesia-Indonesia baru adalah tanggungjawab kita semua. Habibie bilang, kembalilah ke negerimu, kita harus membangun bangsa kita dengan kekuatan kita sendiri. Tidak perlu menjadi Arab untuk menjadi Indonesia dan tdak perlu bangga menjadi Cina jika ingin menjadi Indonesia. Kita hanya perlu menjadi Muslim yang taat dan hanif karena dengan demikian Indonesia akan terjaga. Terjaga dari bencana gorengan yang tidak berkeadilan.

Mengutip kata pak Machfud MD, ”Masalah kita sekarang bukan tentang pluralisme, bukan tentang perbedaan. Tapi masalah besar bangsa kita hari ini adalah tentang Ketidakadilan”.

Ketidakadilannya mungkin karena yang “menjadi” Arab disengketakan dan dikriminalkan. Padahal seharusnya tidak penting untuk men-sengketakan “menjadi” Arab karena memang kita tidak perlu menjadi Arab, kita hanya perlu menjadi Indonesia seutuhnya.

Saya bersyukur menjadi Muslim dan saya bangga menjadi Indonesia. Dan ingat, Islam adalah rahmat terbesar untuk Bangsa kita ini, Indonesia.

Syamsuar Hamka
UGD RS LDP Jeneponto, 26 februari 2017; 23:12

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *