Lingkar Dakwah

LEMBAR UNTUK SANG PEJUANG (1)

Berkhidmat untuk Islam

Dalam setiap gerak, dalam setiap diam dan dalam setiap  saat berkhidmat serta berbuat untuk islam adalah sebuah keharusan untuk kita. Kata akhir tidak ada dalam kamus perjuangan kita dan tidak pula mengenal tempat dan waktu. Carilah peluang dan gunakan semaksimal mungkin peluang dan kesempatan yang ada.

Akhi….. ukhti….

lorong_115_lMasya Allah peluang ternyata sangat banyak sekali, yakinlah jalan dan lorong menuju kebaikan teramat banyak dan senantiasa terbuka lebar untuk kita lewati. Berbekallah dengan keimanan, ilmu, akhlak dan kemampuan mengendalikan pembicaraan InsyaAllah penghuni di ujung lorong sana akan membukakan pintu untukmu. Jauh panggang dari api.

Islam adalah sebuah agama yang sempurna dan paripurna. Diamati dan ditatap dari segi manapun akan tampak kecantikan dan keelokan serta kegagahannya. Tapi sepertinya antara ana, antum dan kita semua sepakat bahwa kelihatan islam belum seutuhnya melekat dan bahkan menjadi daki di tubuh orang islam.

Akhi….ukhti… saksikanlah  karena begitulah realitas menyatakan.

Kalau kita mengatakan orang islam, maka itu masih terlalu umum. Nah, bagaimana dengan orang-orang yang mengusung dakwah Islam ini secara khusus, apakah kebenaran dan kesantunan Islam ini telah menjadi pakaian sehari-hari mereka ??.. apakah keterikatan hati antara mereka telah terjalin   sebagaimana  perumpamaan sebuah tubuh, satu sakit yang lain juga merasakan sakit?? Sudah terlihatkah dipenampakan mereka ketawadhuan, kesabaran, dan harapan hanya kepada Allah…..???

Kalau apa yang kita sebutkan ini masih jauh dari kenyataan, maka sebuah keharusan  dari kita yang ingin memperjuangkan islam ini untuk bersungguh-sungguh untuk memperbaiki dan memuhasabah diri. Kita harus bertekad bahwa sekarang dan yang akan dating, harus lebih baik dari yang lalu. Kalau kemarin kita masih sering menggibah  dan tidak berbuat ihsan kepada saudara seperjuangan kita, maka mulai sekarang kita harus saling menopang dan member motivasi. Sungguh akhi…., pemuda kafir dalam memperjuangkan kebatilan dan kesesatan, mereka saling  bahu  membahu, saling menguatkan satu sama lain. Sekali lagi, mereka tidak saling merendahkan, mencaci dan mencari kesalahan. Kalau para pengusung kekafiran saja seperti itu, seharusnya kita yang  menapaki jalan keselamatan ini harus lebih dari itu.

Lupakan tak usah di gubris, tak usah diobral

Biarkan Allah yang membalas.

Ana kira antum dan kita semua memiliki satu kesepahaman bahwa hal yang terbaik dan paling tinggi nilainya dalam kehidupan kita, mana kala Allah jalla wa ‘ala member taufik kepada kita untuk berbuat suatu amalan yang disertai keikhlasan kepada Allah. Akan tetapi walaupun amalan kita banyak tetapi kita tidak ikhlas kepada Allah  maka sia-sia saja. Kalau perlu kita bukalah terjemahan Al Qur’an surah Al Mulk ayat kedua. Pada ayat tersebut Allah menyebutkan baha dijadikanya kehidupan dan kematian untuk menguji kita, siapa yang paling baik amalannya.

Coba perhatikan akhi…. Ternyata dalam ayat tersebut tidak disebutkan bahwa siapa yang  paling banyak amalannya, akan tetapi dikatakan siapa yang paling baik amalannya. Dalam menafsirkan ayat ini, para ulama kita mengatakan bahwa standarisasi untuk menilai baik tidaknya sebuah amalan hanyalah keimanan kita kepada Allah jalla wa ‘ala, keikhlasan dan mutaba’ah. Untuk itu ana ingin mengajak kepada ikhwan dan akhwat sekalian untuk memuhasabaha kembali amalan-amalan kita dalam perjuangan ini. Apakah kesemuanya itu kita lakukan karena Allah, ataukah diawali dengan niat Karena kita ataukah karena orang lain. Mari persilahkan diri kita untuk jujur, karena pribadi inilah yang paling paham dan  dan paling mengerti akan tujuan akhir dan landasan awal kita dalam melakukan segala sesuatu.

Tak usah kita bangga-banggakan karena itu semua tinggal kenangan. Tak usah-usah disebut-sebut lupakan saja, semuanya telah berlalu biarkan Allah yang menilai.

 

Kubutuh Jawaban

Mungkin tulisan berikut ini telah antum baca pada lembaran serupa ataukah buku yang berkenaan dengan judul tulisan ini. Ana rasa tidak masalah dengn terulangnya suatu kebaikan, yang bermasalah ketika hati kita tidak mau menerima kebaikan itu.

Akhi…..ukhti…….

Biarkan dan izinkan ana untuk bertanya kepada siapa saja yang mengaku pejuang dan pengusung dakwah islam dan manhaj salaf in, termasuk keapda ikhwan dan akhwat.

Jawaban kita sangat dibutuhan dan diharpkan sebagai gambaran mengenai umur dakwah salaf di UNM ke depan. Kita ingin jawabn dari sebuah pertanyaan yang berbunyi “Apakah generasi yang akan datang masih merasakan indahnya dakwah salaf ataukah dakwah salaf telah menampakkan tanda-tanda akan tenggelam di UNM ini” 

Kita bias berkesimpulan manakala antum berkenan menjawab pertanyaan berikut : jika antum tidak berbuat pada masa mudah lalu kapan antum akan berbuat? Kapan anda akan berbuat maksimal, apakah nanti setelah amanah perjuangan meninggalkan anda?, kapan antum berbuat, apakah setelah antum meninggalkan sebuah tempat yang  kemungkinan kesempatan ke dua tidak terulang lagi? Atau antum akan berbuat ketika pintu-pintu kebaikan telah ditutup oleh Allah di hati antum? Ataukah nanti ketika amanah telah meninggalkan antum?

Akhi…ukhti…. Nari kita sadar. Kita adalah seorang muslim dan hak islam begitu banyka yang harus dibrikan kepadanya. Karena sesungguhnya, islam sangat banyak menyelamatkan kita. Silahkan renungkan…

 

Andai Semangat Ini  Berimbang

Kalau kita menyempatkan diri untuk mengamati para pejuang dakwah di kampus tercinta ini, maka (mohon maaf) terjadi sebuah ketimpangan. Penyakit malas dan lemah semangat semakin menyebar…….

Yang ana herankan kenapa penyakit itu hanya muncul kepada aktifitas yang mulia ini, pada aktifitas yang justru kitalah penyandang gelar yang terbaik, terajin, terulet, dan ter…… lainya.

Kenapa pada urusan dakwah semangat kita tidak sama jika dibandingkan dengan pada pengurusan beasiswa?

Akhi….ukhti…

Indah andaikan semangat kita berimbang. Di satu sisi kita cerdas di bangku kuliah dan sisi yang lain pun kita termasuk staf Allah yang rajin dan bersemangat.

Ana yakin antum sudah paham bahwa kemuliaan, keuntungan, kemenangan, kekayaan ketenangan hidup dan keagungan hanya ada dalam islam. Semuanya akan diperoleh manakala kita memberikan waktu, pemikiran, harta dan seluruh potensi titipan Allah untuk perjuangan Islam ini. Persembahkanlah pengorbanan bagi-Nya agar cinta dan kasih sayang serta derajat yang tinggi dianugerahkan kepadamu (Bersambung).

 

Muh. Ilyas (Ketua KBM FT 2009-2010/Ketua Dept. Kaderisasi FSI RI UNM 2010-2011)

Makassar, Tabaria, blok A5/13  Pkl. 23.37 WITA

Ana tunggu nasehatnya antum sekalian di

(izyan_bima@yahoo,co,id)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *