Lingkar Dakwah

LGBT Ternyata Bisa Sembuh; Ini Buktinya!

Pada tulisan sebelumnya yang berjudul “Ini Bantahan LGBT itu dari Gen”, penulis telah mengupas kontroversi seputar teori gay genes yang berakhir pada kesimpulan bahwa menjadi kaum LGBT adalah pilihan, sama sekali bukan faktor bawaan genetik yang selama ini dijadikan argumentasi ilmiah untuk melegitimasi eksistensi LGBT. Mengacu pada kesimpulan tersebut –tak seorangpun yang terlahir sebagai Lesbian, Gay, dll, maka dapat pula dipahami bahwa LGBT bisa disembuhkan. Ironisnya, mereka yang “memilih” menjadi kaum LGBT seringkali tidak sadar akan kenyataan ini, bahkan cenderung merasa terdiskriminasi ketika sebuah pendekatan dilakukan untuk membantu mereka. Fenomena ini semakin memperumit masalah, karena di satu sisi kaum LGBT merasa tidak ada yang salah dengan diri mereka, sementara di sisi lain masyarakat merasa resah dengan kehadiran mereka.

Tentu asumsi bahwa LGBT bisa disembuhkan bukan sebatas utopia. Karena itu, pada kesempatan ini penulis mengajak para pembaca menelusuri kisah-kisah perjuangan mantan LGBT dalam menempuh reparative therapy (terapi pemulihan) sehingga mereka berhasil mengatasi perasaan Same-Sex Attractions, ketertarikan pada sesama jenis (selanjutnya kita sebut SSA), dan menjadi manusia normal, seorang laki-laki yang lurus orientasi seksualnya. Potongan-potongan kisah berikut merupakan kisah nyata yang penulis terjemahkan ringkas dari situs Josephnicolosi.com (untuk kisah selengkapnya, silahkan kunjungi sumber website).  

Kisah pertama: (April 2014) Nama saya adalah Paul, 27 tahun, seorang mahasiswa pascasarjana yang sedang mengejar gelar Ph.D. Saya tinggal di sebuah apartemen dengan dua teman laki-laki. Mereka sebenarnya teman yang baik, tapi saya selalu merasa tertinggal sehingga kesulitan bergaul. Ketika mereka dengan mudahnya bergaul dengan banyak teman di luar sana, saya tertinggal sendiri di kamar disergap perasaan sepi, terlupakan. Tidak seperti laki-laki pada umumnya yang teratrik pada perempuan, saya justru merasakan ketertarikan pada laki-laki, bahkan itu terjadi sejak usia sekolah. Saya seringkali terbawa dalam dunia fantasi sehingga mulai menonton video porno gay. Sebuah keanehan yang saya sendiri tidak inginkan, berusaha menolak, tapi justru semakin jauh terbawa arus. Sebenarnya saya juga memiliki ketertarikan kepada lawan jenis, tapi rasa ketertarikan pada laki-laki jauh lebih kuat. Perasaan tidak nyaman itu mendorong saya untuk mencari solusi melalui buku-buku karya Dr. Nicolosi yang berjudul “Healing Homosexuality”, dan “Reparative Therapy and Male Homosexuality”. Setelah itu saya melangkah lebih serius dengan menemui Dr. Nicolosi secara langsung untuk menjalani terapi.

Fokus utama dari terapi tersebut adalah mengungkap pengalaman masa lalu yang kurang baik, seperti hubungan yang tidak sehat dengan orang tua. Saya akhirnya menyadari bagaimana ayah tidak pernah peduli pada pertumbuhan masa kecil saya, meskipun secara fisik dia ada di sana, atau bagaimana ibu selalu berkuasa membatasi setiap gerak-gerik dalam rumah sehingga tidak menyisakan ruang untuk saya tumbuh sebagaimana mestinya seorang anak laki-laki. Perempuan lain yang ada di dalam rumah adalah nenek dan tante, yang juga bersikap tidak jauh beda dengan ibu. Akibatnya, saya tumbuh sebagai anak yang canggung dalam bergaul. Bagian lain yang tidak kalah penting dari terapi tersebut  adalah mengatasi kecanduan saya terhadap video-video porno.

Saya menjalani reparative therapy tersebut selama dua tahun lebih, dan dinyatakan sembuh sekitar tiga bulan lalu. Sekarang saya sudah memiliki seorang istri dan dia sedang hamil tiga bulan. Kehidupan rumah tangga kami lebih dari cukup untuk dikatakan bahagia. Ketertarikan pada laki-laki tidak tersisa sama sekali kecuali sebatas keinginan untuk pertemanan. Menurut saya, bagian terpenting dari sebuah langkah terapi adalah menyadari bahwa tidak ada hal semacam pil ajaib yang bisa merubah hidup seseorang 180º secara tiba-tiba. Tidak ada solusi yang benar-benar sempurna, yang ada hanya usaha yang terus menerus.

Kisah kedua: Nama saya Bill, 50-an tahun, seorang ahli bedah ortopedi. Saya telah menjalani terapi sekitar tiga tahun. Saya mulai menyadari berbeda dengan kebanyakan orang sejak masa pubertas, selalu merasa bahwa ada sesuatu yang tidak beres, karena saya memiliki ketertarikan terhadap laki-laki, meskipun juga tertarik kepada perempuan.

Selesai kuliah, saya segera menikah, tapi di saat yang bersamaan saya mulai kecanduan menonton video porno gay. Senang melakukan web-caming (semacam video-call) dengan laki-laki. Setelah menjalani terapi, saya akhirnya mengetahui bahwa pengalaman masa kecil memberi pengaruh yang sangat besar terhadap disorientasi seksual yang saya alami. Di usia 10-11 tahun, saya ingat ayah sering berganti pakaian di hadapan saya, sehingga saya langsung melihatnya tanpa pakaian. Di sekolah, saya selalu diperlakukan seperti anak perempuan; dijadikan bahan ejekan karena berbadan gemuk; dan dalam kelompok, misalnya, selalu berada di urutan terakhir. Paman juga seringkali memperlihatkan −maaf− alat kelaminnya tepat di muka saya. Sejak itu saya bertanya-tanya kanapa orang-orang memperlakukan saya seperti itu? Saya berasumsi, mungkin karena saya seorang gay.

Ayah adalah seorang yang sangat sibuk, bekerja mulai pukul 5.30 pagi dan selesai 7.30 malam, setiap hari. Saya tidak tahu banyak tentang beliau, hubungan kami tidak terlalu baik. Saya memiliki seorang saudara laki-laki, tapi ibu selalu menaruh perhatian lebih untuk saya, mengenakan pakaian yang terkadang feminin, bercerita tentang keburukan dan segala kekurangan ayah. Setelah menjalani terapi, saya akhirnya sadar bahwa saya adalah seorang laki-laki normal, 100%.

Setelah mejalani terapi, saya dinyatakan sempurna sembuh dari SSA, dan sekarang menjalani sebuah rumah tangga yang normal. Saya memiliki seorang anak laki-laki berumur 12 tahun, setiap pekan saya mengajaknya jalan-jalan, dan sebisa mungkin meluangkan waktu untuk berkomunikasi dengannya. Saya tidak ingin dia mengalami hal yang sama seperti ayahnya.            

Dari dua kisah di atas, dapat dilihat bagaimana para penderita disorientasi seksual mengalami perjuangan yang panjang demi menjadi sosok laki-laki yang normal. Tentu masih banyak sekali kisah-kisah mantan LGBT di luar sana yang akhirnya sembuh setelah berjuang dengan sungguh-sungguh[1]. Dari dua kasus di atas, terpapar bukti yang nyata bahwa seseorang bisa memilih untuk tidak menjadi individu LGBT, bahkan jika godaan untuk ke sana begitu kuat, selalu ada jalan kembali ke fitrah selama penderita memiliki keinginan untuk itu. Kenyataan tersebut setidaknya memberi motivasi kepada mereka yang telanjur “menerima” keadaan dirinya sebagai individu LGBT, untuk bangkit dan melawan SSA.

Dari dua kisah di atas, dapat dilihat bagaimana para penderita disorientasi seksual mengalami perjuangan yang panjang demi menjadi sosok laki-laki yang normal. Tentu masih banyak sekali kisah-kisah mantan LGBT di luar sana yang akhirnya sembuh setelah berjuang dengan sungguh-sungguh[1]. Dari dua kasus di atas, terpapar bukti yang nyata bahwa seseorang bisa memilih untuk tidak menjadi individu LGBT, bahkan jika godaan untuk ke sana begitu kuat, selalu ada jalan kembali ke fitrah selama penderita memiliki keinginan untuk itu. Kenyataan tersebut setidaknya memberi motivasi kepada mereka yang telanjur “menerima” keadaan dirinya sebagai individu LGBT, untuk bangkit dan melawan penyimpangan SSA.

Tindakan Preventif

Dalam bukunya, Healing Homosexuality, Dr. Joseph Nicolosi menjelaskan:

“Seperti metode pengobatan psikoanalisis pada umumnya, bentuk terapi pemulihan ini lahir dari asumsi bahwa ada tahap perkembangan masa kecil yang tidak lengkap. Dapat pula dipahami bahwa, ketika penderita (disorientasi seksual) masih kecil, orangtua gagal membimbingnya melewati fase perkembangan tersebut” Dari kebanyakan kasus LGBT, dapat dilihat dengan jelas bahwa faktor terbesar yang menggiring seorang anak pada kecenderungan disorientasi seksual berawal dari keluarga. Keluarga yang gagal membentuk sang anak menjadi pribadi yang semestinya, sangat beresiko menjumpai anaknya kelak menjadi sosok yang kehilangan identitas. Dalam bukunya, Guide to Preventing Homosexuality, Nicolosi menegaskan

“Of course, the . . .child should not be forced into a predetermined mold that will cause him to deny his fundamental nature – his natural gifts of creativity, sensitivity, kindness, gentleness, sociability, intuitiveness or high intellect” (p. 38).

(Tentu saja, seorang anak seharusnya tidak dipaksa menjadi sosok tertentu yang menyebabkan dia mengingkari sosok dirinya yang sebenarnya –kreatifitas alaminya, sensifitasnya, kebaikan hatinya, kelembutannya, kemampuan sosialnya, intuisinya atau kecerdasannya).

Perspektif Islam

Dalam Islam, senada dengan pendapat Dr. Nicolosi, keluarga menjadi tempat pertama bagi seorang anak memperoleh pelajaran sekaligus pengalaman masa kecilnya. Masalah LGBT ini tentu tidak perlu terjadi seandainya setiap orangtua berhasil mendidik anaknya melewati masa kecil dengan baik. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa masalah terbesar umat ini berawal dari orangtua yang gagal mendidik anaknya. Seperti kata Nouman Ali Khan,“The Crisis of the ummah is not economic, it’s not politic, it’s not education, it’s not corruption. That is not the crisis of the ummah. The crisis of the ummah is that the family unit is being destroyed. People don’t know how to raise their kids anymore. People don’t know how to be parents anymore ….”. Krisis (terbesar) yang sedang melanda umat ini bukan masalah ekonomi, politik, pendidikan, atau korupsi. Itu semua bukan krisis sebenarnya. Krisis yang sebenarnya adalah kerusakan pada unit keluarga. Orang-orang tidak lagi tahu bagaimana mendidik anak-anak mereka. Mereka tidak lagi tahu bagaimana menjadi orang tua yang baik ….”.

Pendidikan dan Pembinaan dari orangtua menjadi langkah pencegahan terpenting dalam mengatasi segala kerusakan akhlak pemuda, khususnya kasus LGBT ini. Allah swt berfirman “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka ….” (QS. at-Tahrîm/66:6).

Ulama Islam, Qatâdah Rahimahullah menjelaskan ayat tersebut bahwa “(Menjaga keluarga dari neraka adalah dengan) memerintahkan mereka untuk bertakwa kepada Allâh dan melarang mereka dari kemaksiatan kepada Allâh Azza wa Jalla, dan mengatur mereka dengan perintah Allâh, memerintahkan mereka untuk melaksanakan perintah Allâh, dan membantu mereka untuk melaksanakan perintah Allâh. Maka jika engkau melihat suatu kemaksiatan yang merupakan larangan Allâh, maka engkau harus menghentikan dan melarang keluarga(mu) dari kemaksiatan itu”. (Lihat: Tafsir Ibnu Katsir, QS. at-Tahrîm: 6)

Pendidikan dan Pembinaan dalam bentuk Tarbiyah yang kontinu, serta pendekatan yang tepat harus terus digalakkan demi membentengi anak cucu kita dari pengaruh ideologi-ideologi menyimpang. Tidak ada solusi yang lebih baik untuk seluruh permasalahan umat ini kecuali penanaman nilai-nilai Qur’an dan Sunnah ke dalam dada generasi muda sejak dini.

Makassar, 28 Februari 2016

Hendra Bakti    

       

[1] Lihat: josephnicolosi.com, dan peoplecanchange.com

7 comments
  1. Gajah Susanto

    Bagi yg berpandangan LGBT bukan bawaan lahir, semoga kalian nanti memiliki anak atau keturunan LGBT, dan buktikan itu terapi, bisa sembukan nggak. Yg jelas harus jujur, jangan sampai munafik, jangan sampai pura pura sembuh.

  2. Gajah Susanto

    Ilmu pengetahuan sudah membuktikan bahwa LGBT adalah alami, tapi pegiat agama tetap ngotot bahwa LGBT bisa disembuhkan.

    Jangan sampai penafsiran agama menjadikan kita kehilangan rasa kemanusiaan. Kalau tetap memaksakan terus, ya jangan salahkan mereka sekarang banyak yang tidak percaya lagi pada agama.

    Perlu dikaji & ditinjau ulang, penafsiran agama ribuan tahun lalu yg sudah tidak sesuai kondisi jaman dan tidak sesuai fakta.

    1. admin

      masalah gay dan lesbi adalah persoalan yang qath’i. dasar hukumnya jelas. dan tidak akan berubah hingga akhir zaman. ayat-ayat yang berkaitan dengan hal tersebut, tidak membutuhka penafsiran lagi.

  3. Izzy

    Menjadi gay ataupun normal, cobaannya sama. Laaa takrobu zina

    Hnya saa yg gay harus melawan ego nya, untuk bisa menikahi wanita. Atau … Bisa memilih hidup sendirian,dengan tetap memberi manfaat untuk bnyak orang

  4. Who am i

    Mana ada gay dari genetic.. Adanya dari lingkungan, ingat2 kecilnya dulu didik seperti apa? Apakah lebih dominan ke fiminim atau maskulin, pernah dibully atau ditekan, trauma dll. Saya yakin 100% dari lingkungan masala lalu. Makanya bagi para calon ortu, bapak2 tolong lebih komunikatif kepada anak laki2nya, ajak dia aktif bermain, ngobrol dan kegiatan2 maskulin, InsyaAllah perilaku LGBT tidak akan terjangkit ke keturunan anda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *