Lingkar Dakwah

LIDMI Gorontalo Fasilitasi Diskusi Pemikiran Islam Bersama BASTRASIA UNG

GORONGTALO — Himpunan Mahasiswa Jurusan BASTRASIA (Bahasa dan Sastra Indonesia) kerja sama dengan PD LIDMI Gorontalo mengadakan kegiatan Tadabur Kebahasaan dan Kajian Islam, Sabtu (9/3/2019) di Masjid Kampus Sabilurrasyad Universitas Negeri Gorontalo. Kegiatan ini bertemakan “Menakar Makna Kata Kafir ditinjau dari aspek Bahasa, Agama, Sosial Budaya, dan Pluralitas Masyarakat Bernegara”.

“Kegiatan ini dihadiri oleh empat pemateri, yakni Prof. Dr. Abdul Haris Panai, M.Pd yang akan meninjau dari Aspek Pendidikan Sosial dan Budaya, yang kedua Bapak Samsi Pomalingo, M.A yang akan meninjau dari aspek Pluralitas Masyarakat Bernegara, pemateri yang ketiga Ustadz Ishak Abdurrazak Bakari, Lc.,M.Fil.I yang akan meninjau dari aspek Agama, dan pemateri yang terakhir adalah dan Bapak Dr. Herman Didipu, M.Pd yang akan meninjau dari Aspek Semantis Bahasa, dan yang menjadi moderator adalah Dr. Herson Kadir, M.Pd,” ujar Reza Mustaki, panitia kegiatan tersebut.

Menurut Abdul Haris Panai, Sebenarnya dalam aspek budaya dan sosial tidak masalah hanya karena sudah dikaitkan dengan pesta demokrasi akan mendatang ini semua jadi heboh dan bermasalah.

Samsi Pomalingo juga melanjutkan bahwa  kondisi kita hari ini panas sehingga apapun bisa digoreng, apalagi ada salah satu tokoh ormas Islam yang jadi calon wakil presiden.

Sementara itu, Ishak Abdurrazak Bakari, Wakil Ketua II MUI Prov Gorontalo mengatakan bahwa kata kafir itu menutup, tidak beriman, dan perlu kita renungi tidak ada kata yang halus selain kata ini, karena yang memakai adalah Allah itu sendiri .

”Kata kafir ini sudah ada di KBBI, dan jika di kaji dalam ilmu semantik (ilmu makna) yaitu suatu kata kalau diganti harus mengalami perubahan minimal ada enam gejala generalisasi (perluasan makna), spesifikasi, ameliorasi (penaikan harga), Teorasi, Eukomisme,  dan Disfemia,” kata Herman Didipu menambahkan.

Menurutnya kata “kafir” masuk di eukomisme, dan kata itu sudah halus, lalu urgensinya apa jika diganti menjadi non muslim, ini kurang begitu pas apalagi belum ada dampak sosial .

“Kegiatan ini alhamdulillah berjalan dengan lancar dan dihadiri oleh beberapa para asatidzah, diantaranya habib jufri dan pak Rullianto Podungge, dan asatidzah lain, serta para dosen dan para aktivis mahasiswa,” imbuh Reza Mustaki. (syt)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *