Lingkar Dakwah

Materi Tarbiyah: Keutamaan & Faidah Dzikir

keutamaan dan faidah dzikir

Musuh-musuh agama ini selalu mencari-cari cara untuk memerangi kaum muslimin sampai mereka keluar/murtad dari dari agama ini. Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah membongkar hati-hati orang kafir dengan mengatakan dalam Al-qur’an yang mulia,

  1. Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka[1]…(QS. Al Baqarah: 120)

Untuk itu :

  1. Hendaknya kita semakin mendekatkan diri kepada Allah dengan banyak melakukan ibadah yang tujuan diciptakannnya kita adalah karena perkara tersebut.
  2. Hendaknya kita senantiasa dan bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. Dan kesungguhan itu diwujudkan dengan keinginan yang besar terhadap memiliki kitab-kitab para ulama. Terutama kita hendaknya memiliki –minimal- kitab tafsir Ibnu Katsir, untuk pengetahuan kita tehadap al-qur’an dan –minimal- kitab hadits arba’in yang memuat hadits-hadits pokok dalm agama ini.

Sebuah Hadits –yang isinya kurang lebih- berarti :

Nabi Musa Alaihissalam, berkata kepada Allah Azza wa Jalla, “Berikanlah aku satu kalimat yang dengannnya aku senantiasa mengingat-Mu”. Allah subhanahu wata’ala menjawab, “katakanlah Laailaha Illallah”. Nabi Musa Mengatakan, “Ya Allah, sesungguhnya kalmat itu sudah biasa diucapkan oleh orang-orang, berikan saya yang lain, yang berbeda dengan yang lainnya”, Allah Menjawab “Waha Musa, Sesungguhnya jikalau kalimat Laa-ilaaha Illallah itu diletakkan pada satu daun timbangan dan tujuh lapis langit beserta isinya-kecuali aku- dan tujuh lapis bumi beserta seluruh isinya pada daun timbangan yang lain, maka masih lebih berat kalimat Laa-ilaaha Illallah.”

Faidah Hadits:

  1. Para nabi dan rasul diberikan keutamaan masing-masing oleh Allah. Nabi Musa Alaihissalam memiliki keutamaan dan digelari Kalimullah(Wakallamallahu Musa Takliima), yaitu bisa bercakap-cakap langsung dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Adapun Nabi Muhammad Sallallahu ‘alaihi Wasallam dan nabi Ibrahim Alaissalam sebagai Khalilullah.
  2. Dzikir adalah amalan yang mudah. Kemudahannya itu ditunjukkan dengan dapatnya amalan ini dilakukan kapan dan dimana saja, bahkan tanpa wudhu. Wanita yang sedang haid pun dapat melakukan amalan ini.
  3. Karena amalan ini sangat mudah, namun dzikir menuntut frekuensi yang tinggi. Yang harus senantiasa dilakukan sampai akhir hayat kita. Asal kata dzikir berarti ingat sedang lawannya adalah –kalau tidak salah- Ghaflun yang berarti lupa atau lalai. Artinya jika tidak mengingat, maka pada saat itu juga kita telah lupa atau lalai dari mengingat Allah. Dalam Al-qur’an surah Al-Ahzab: 41, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :
  1. Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya.

Begitu pula pada ayat 31-35,  :

  1. Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin[1218], laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.

Saking pentingya, bahkan saat bertemu musuhpun kita diperintahkan untuk banyak berdzikir kepada Allah. Sebagaimana disebutkan dalam Qur’an Surah Al-anfal: 45;

  1. Hai orang-orang yang beriman. apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya[2] agar kamu beruntung.

Rasulullah Sallallahu ‘alaihi Wasallam saja, beliau adalah orang termulia, ma’shum dari dosa karena diampuni dosa-dosanya yang lalu, pada masanya, dan akan datang, namun beliau masih sangat-sangat banyak mengingat Allah. Ini ditunjukkan dengan amalan beliau dalam beristighfar kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Disebutkan dalam suatu riwayat, beliau beristighfar 70 kali dalam sehari, diriwayat lain disebutkan 100 kali. Meskipun begitu mudah kedengarannya, dan mudah saja kita lakukan, akan tetapi beliau melakukannya selama hidup. Kita mungkin hanya bertahan beberapa hari saja, setelah itu kita lalai lagi.

  1. Aktivitas manusia dalam kehidupannya hanya tiga posisi atau keadaan, yaitu kalau Ia tidak berdiri, maka Ia duduk, atau berbaring. Dan Allah memerintahkan kepada hamba-Nya untuk senantiasa mengingat-Nya dalam berbagai keadaan tersebut, sebagaimana yang Allah firmankan:(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (QS. Ali Imran: 191)

Begitu pula setelah ibadah haji sebagaimana dalam QS. Al-Baqarah: 200, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

  1. Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu[3], atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat.

Begitu pula setelah berdzikir kita tetap diperintahkan untuk banyak berdzikir kepada Allah, seperti yang Allah sebutkan dengan firman-Nya:

  1. Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli[1475]. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.10. Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. (QS. Al-Jumu’ah: 9-10)

Adapun Keutamaan banyak berdzikir kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah :

 1. Akan diingat oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sesuai firman-Nya :

  1. Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu[4], dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku. (QS. Al Baqarah: 100)

Dan Hadits Nabi Sallallahu ‘alaihi Wasallam yang artinya kurang lebih :

“Ana inda Dzanni Abdih…”

“Aku (Allah) senantiasa sesuai dengan persangkaan hamba-Ku…”

 2. Termasuk orang-orang yang memiliki hati yang hidup. Sebagaimana hadits nabi Sallallahu ‘alaihi Wasallam –artinya kurang lebih/seperti yang dikatakan oleh Rasulullah Sallallahu ‘alaihi Wasallam :

“Perumpamaan orang yang mengingat Tuhan-Nya dengan orang yang lupa saja kepada tuhan-Nya adalah diibaratkan dengan orang  yang mati dengan orang hidup”(HR Bukhari & Muslim)

Hati ini memiliki sifat-sifat yang sama dengan jasmani, ia bisa sakit, mati ataupun hidup. Jika jasmani sakit ia akan berat melakukan suatu pekerjaan,begitu pula dengan hati jika hati sakit itu berarti pemiliknya berat melakukan/menjalankan perintah-Nya. Jika hati itu telah mati, maka itu berarti pemiliknya tidak pernah lagi beriman kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. 

 Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidakkamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman. 7. Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka[5], dan penglihatan mereka ditutup[6]. Dan bagi mereka siksa yang amat berat. (QS. Al Baqarah: 6-7)

 Dzikir merupakan amalan yang terbaik, nilainya tertinggi, paling suci dan dicintai Allah, serta dapat meninggikan derajat kita (setiap amalan memiliki keutamaan tersendiri).

3. Jika kita jarang atau lalai dari berdzikir kepada-Nya, maka apa yan terjadi…? :

– Ciri orang munafiq. Allah menyebutkan :
Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka[7]. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya][8] (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali[9].(QS. An Nisa: 142)

– Akan diberi kehidupan yang sempit. Sebagaimana allah menyebutkan dalam Alqur’an :

Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.”125. Berkatalah ia: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?”126. Allah berfirman: “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan.”(QS. Thaaha:124-126)

– Akan dijadikan syaithan sebagai teman-teman mereka. Sebagaimana allah sebutkan dalam Al-Qur’an yang mulia :

Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Quran), kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.(QS. Az Zukhruf: 36)

– Orang yang tidak mau berdzikir termasuk orang-orang yang merugi. Betapa tidak merugi karena amalan dzikir adalah amalan yang ringan dan mudah, keutamaannya yang besar, serta luangnya waktu yang kita miliki, namun kita lalai dari amalan tersebut.

 Nabi –shalllahu alaihi wa sallam- menyebutkan dalam haditsnya, “Kalimatani Khafifatani alallisan, staqilatani fil mizan, habibatani ila rahman, Subhanallahi wabihamdih, subhanallahil adzhim”.

“Ada dua kalimat, ringan diucapkan di lisan, berat timbangannya di mizan, dan sangat dicintah oleh Allah yang maha Rahman, Subhanallahi wabihamdih, Subhanallahil Adzhim”.

 

Khatimah

 Karena itu hendaknya kita senantiasa banyak berdzikir kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Begitu banyak amalan sehari-hari kita yang selalu diiringi dengan dzikir kepada-Nya. Memakai pakaian, masuk WC, memakai sandal, sebelum dan sesudah makan,  sebelum dan setelah bangun tidur dan sebagainya. Karena itu pantaslah jika Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

  1. Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.(QS Adz-Dzariyat; 56).

Pantas pula jika aktivitas-aktivitas yang menjauhkan kita dari mengingat kepada-Nya Allah senantiasa  memperingatkan bahkan mengaharamkan perkara-perkara yang membuat Allah luput dan lalai dari dzikir kepada-Nya, seperti musik dan nyanyian, meminum khamr atu perkara-perkara yang lain yang menutup akal dan memalingkan kita dari mengingat Allah. Karena tidak lain, seluruh aktivitas kita hendaknya kita arahkan untuk selalu bernilai pahala.

 

(Syamsuar Hamka)

Tanjung Bayang, Makassar, 7 Agustus 2009

20.07 WITA

 

Materi ini disampaikan dalam Liqo Tarbiyah bersama Ust. M. Anwar Paeno di kediaman beliau. Hafizhahullahu.

 

[1] Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa kaum Yahudi Madinah dan kaum Nashara Najran mengharap agar Nabi SAW shalat menghadap qiblat mereka. Ketika Allah SWT membelokkan qiblat itu ke Ka’bah, mereka merasa keberatan. Mereka berkomplot dan berusaha agar supaya Nabi SAW menyetujui qiblat sesuai dengan agama mereka. Maka turunlah ayat tersebut di atas (S. 2: 120) yang menjelaskan bahwa orang-orang Yahudi dan orang-orang Nashara tidak akan senang kepada  Nabi Muhammad SAW walaupun keinginannya dikabulkan.  (Diriwayatkan oleh Tsa’labi yang bersumber dari Ibnu Abbas.)

[2] Maksudnya ialah: memperbanyak zikir dan doa.

[126]. Adalah menjadi kebiasaan orang-orang Arab Jahiliyah setelah menunaikan haji lalu bermegah-megahan tentang kebesaran nenek moyangnya. Setelah ayat ini diturunkan maka memegah-megahkan nenek moyangnya itu diganti dengan dzikir kepada Allah.

 Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa orang-orang Jahiliyyah wuquf di musim pasar. Sebagian dari mereka selalu membangga-banggakan nenek moyangnya yang telah membagi-bagi makanan, meringankan beban, serta membayarkan diat (denda orang lain). Dengan kata lain, di saat wuquf itu, mereka menyebut-nyebut apa yang pernah dilakukan oleh nenek moyangnya. Maka turunlah ayat tersebut di atas (S. 2: 200) sampai: asyadda dzikira, sebagai petunjuk apa yang harus dilakukan di saat Wuquf.  (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ibnu Abbas.)

Menurut riwayat lain, orang-orang di masa itu apabila telah melakukan manasik, berdiri di sisi jumrah menyebut-nyebut jasa-jasa nenek moyang di zaman jahiliyyah. Maka turunlah ayat tersebut di atas (S. 2: 200) sebagai petunjuk apa yang harus dilakukan di sisi Jumrah. (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Mujahid.)

Menurut riwayat lain, salah satu suku bangsa Arab sesampainya ke tempat wuquf berdoa: “Ya Allah, semoga Allah menjadikan tahun ini tahun yang banyak hujannya, tahun makmur yang membawa kemajuan dan kebaikan. Mereka tidak menyebut-nyebut urusan akhirat sama sekali. Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas sampai akhir ayat (S. 2: 200) sebagai petunjuk bagaimana seharusnya berdoa. Setelah itu kaum Muslimin berdoa sesuai petunjuk dalam al-Qur’an (S. 2: 201) yang kemudian ditegaskan oleh Allah SWT dengan firman-Nya ayat berikutnya (S. 2: 202). (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ibnu Abbas.) [3]

[4] Maksudnya: Aku limpahkan rahmat dan ampunan-Ku kepadamu. 

[5] Yakni orang itu tidak dapat menerima petunjuk, dan segala macam nasehatpun tidak akan berbekas padanya.

[6] [21]. Maksudnya: mereka tidak dapat memperhatikan dan memahami ayat-ayat Al Quran yang mereka dengar dan tidak dapat mengambil pelajaran dari tanda-tanda kebesaran Allah yang mereka lihat di cakrawala, di permukaan bumi dan pada diri mereka sendiri

[7] Maksudnya: Alah membiarkan mereka dalam pengakuan beriman, sebab itu mereka dilayani sebagai melayani para mukmin. Dalam pada itu Allah telah menyediakan neraka buat mereka sebagai pembalasan tipuan mereka itu.

[8]Riya ialah: melakukan sesuatu amal tidak untuk keridhaan Allah tetapi untuk mencari pujian atau popularitas di masyarakat.

[9] Maksudnya: mereka sembahyang hanyalah sekali-sekali saja, yaitu bila mereka berada di hadapan orang.

2 comments
Tinggalkan Balasan ke Abdullah Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *