Lingkar Dakwah

 Menghadapai Fitnah

Jika saja orang kaya masih terus berdo’a untuk ditambahkan rezkinya. Atau minimal diberkahi hartanya tidak berkurang. Maka bagaiamana lagi dengan orang beriman. Demikianlah selalu kita ulangi do’a, “Tunjukilah kami jalan yang lurus”. Untuk senantiasa diberikan hidayah petunjuk. Untuk tetap istiqomah dalam memegang teguh jalan lurus itu.

Apalagi hidup di zaman penuh fitnah, ujian cobaan. Tidak mengherankan jika kemudian banyak manusia yang tergelincir pada ‘lubang biawak’. Heranlah, di tengah cengkraman berbagai fitnah itu kemudian masih ada segolongan manusia  benar-benar istiqomah diatas manhaj Nubuwwah. Sekali lagi, istiqomah.

Fitnah dengan berbagai bentuknya. Fitnah syubhat maupun fitnah syahwat. Fitnah syubhat dihadapi dengan Ilmu dan dakwah. Adapun fitnah syahwat dengan iman dan taqwa.

Sebelum menceritakan kisah Ashabul Kahfi (ayat: 9), Allah Azza wa Jalla terlebih dahulu memberikan pengantar, “Apakah engkau mengira bahwa orang yang mendiami gua dan (yang mempunyai) Ar Raqim itu, termasuk tanda-tanda kebesaran Kami yang menakjubkan?”

Bahwa para Ashabul Kahfi yang ditidurkan selama tiga abad bukanlah tanda kebesaran Allah yang (paling) menakjubkan. Sebab mereka hanya ditidurkan. Lebih daripada itu, sesuatu yang sebelum tiada kemudian diciptakan, dihidupkan. Jika kita hanya takjub pada awan yang tiba-tiba  bertuliskan nama Allah. Lalu bagaimana dengan awan-awan yang selama ini kita lihat. Bukankah itu juga bagian dari tanda kebesarannya?

Bahwa aqidah, keyakinan kita tidak dibangun atas dasar ketakjuban-ketakjuban semata. Namun dibangun diatas pondasi ilmu, pemahaman yang benar. Maka pertamakali yang harus kita yakinkan, perhatikan, darimana kita mendapatkan, mempelajari agama ini. Tidak asal-asalan.

Ketika mulai tersebar hadits-hadits palsu yang tidak bersumber. Orang-orang kemudian saling mengingatkan, “Sammuu rijaaluna, berikan nama (perawi haditsnya).” Dari sinilah kemudian para ulama betul-betul menjaga orisinalitas sebuah ilmu. Dimulai dari silsilah para perawi sanad hadits. Ilmu yang benar-benar terjaga dan dibawa oleh orang-orang yang terpercaya pula.

Ada tiga orang yang sepantasnya kita mengambil ilmu darinya. Tiga rujukan kita mengambil ilmu.

Ahlul Ilmi

Mereka adalah orang-orang yang memang mempelajari khusus, bertafaqquh fii ad-dien. Merekalah alim-ulama, pewaris para Nabi. Orang-orang yang mumpuni dalam ilmu syar’i dan punya amanah tanggungjawab ilmiah. Bukan orang yang tiba-tiba muncul berfatwa tapi dia sendiri tidak pernah belajar sebelumnya. Bukan sembarang mengambil ilmu darimana saja tanpa sumber yang valid. Darimana kita merujuk sumber ilmu.

Semua urusan akan kita serahkan pada ahlinya masing-masing. Namun kini, semua orang seolah punya hak berbicara soal agama. Muncullah orang-orang yang sesat dan menyesatkan. Orang-orang jahil yang berijtihad lalu berfatwa.

Ahli ibadah belum tentu dia juga ahlul ‘ilm. Menjadi ahli ibadah saja tidak cukup. Sebab keutamaan seorang alim dengan ahli ibadah sebagaimana keutamaan bulan dari semua bintang-bintang. (bersambung)

Muhammad Scilta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *