Lingkar Dakwah

Menyoal Status Sebuah Bencana Alam

Oleh: Arfan Arifuddin, S.S*

Di banyak tempat di dunia belakangan ini, khususnya di negeri kita yang tercinta, bencana alam silih berganti terjadi dan menyita perhatian kita. Tidak hanya mengendapkan pilu, tragedi beruntun tersebut menimbulkan banyak tanda tanya, “Apa yang sebenarnya sedang terjadi?”.

Bencana alam memang merupakan salah satu sunnatullah (ketetapan Allah subhanahu wata’ala). Ia adalah bagian dari takdir, tidak akan terjadi tanpa izin-Nya, tidak ada yang mampu mengubahnya, mempercepat atau menundanya, atau menghindar darinya.

فَلَن تَجِدَ لِسُنَّتِ اللَّهِ تَبْدِيلًا ۖ وَلَن تَجِدَ لِسُنَّتِ اللَّهِ تَحْوِيلًا

“Kamu tidak akan melihat ada pergantian pada sunnatullah, dan juga kamu tidak akan melihat ada perubahan pada sunnahtullah” (QS. Fathir: 43).

Namun di sisi lain, ada sejumlah hal penting dan bermanfaat untuk digali lebih dalam pada perspektif Quran dan sunnah, menjadi bahan perenungan dan pelajaran bagi orang-orang yang berfikir.

Apa status dari sebuah bencana?

Meskipun telah dijelaskan sebelumnya bahwa bencana alam – atau singkatnya bencana – merupakan bagian dari sunnatullah, namun jika dilihat lebih dalam maka sebuah bencana bisa berbeda-beda “statusnya.” Status yang dimaksud adalah istilah untuk menyifati bencana yang terjadi atas seseorang atau sekelompok manusia; apakah ia merupakan sebuah ujian, teguran, atau hukuman. Tidak ada dalil khusus mengenai peristilahan ini, hanya saja hal tersebut dilakukan untuk membantu memaknai dan menyikapi sebuah bencana dengan sebaik-baiknya.

Jika sebuah bencana menimpa suatu kaum yang seluruhnya kafir, maka dapat dipastikan bahwa itu adalah hukuman – atau dengan kata lain azab. Ini dapat dilihat pada kisah-kisah umat yang lampau, di mana Allah subhanahu wata’ala mengeluarkan para nabi dan pengikutnya yang beriman dari lokasi kaumnya kemudian menghancurkan mereka yang tetap kafir dan tersisih di tempat tersebut. Salah satu contohnya adalah Nabi Luth ’alaihissalam dan kaumnya yang dikisahkan dalam Quran:

فَأَسْرِ بِأَهْلِكَ بِقِطْعٍ مِّنَ اللَّيْلِ وَلَا يَلْتَفِتْ مِنكُمْ أَحَدٌ إِلَّا امْرَأَتَكَ ۖ إِنَّهُ مُصِيبُهَا مَا أَصَابَهُمْ ۚ إِنَّ مَوْعِدَهُمُ الصُّبْحُ ۚ أَلَيْسَ الصُّبْحُ بِقَرِيبٍ

“Maka pergilah (keluarlah dari kota) dengan membawa keluarga dan pengikut-pengikutmu di akhir malam dan janganlah ada seorangpun di antara kamu yang tertinggal, kecuali isterimu! Sesungguhnya dia akan ditimpa azab yang menimpa mereka karena sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah di waktu subuh; bukankah subuh itu sudah dekat?” (QS. Hud: 81)

Kondisi seperti ini mungkin tidak akan terjadi lagi karena beberapa sebab. Salah satu ketetapan Allah subhanahu wata’ala atas umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam – yakni manusia yang datang setelah beliau shallallahu ‘alaihi wasallam – adalah bahwa mereka yang membangkang tidak dibinasakan secara langsung dan menyeluruh, melainkan ada penundaan dengan berbagai hikmah. Di samping itu, manusia bercampur baur satu sama lain, mukmin dan kafir, orang saleh dan fasik hidup saling berdampingan dan tersebar di permukaan bumi. Bukannya sulit bagi Allah subhanahu wata’ala untuk menjatuhkan musibah dengan teliti, hanya saja Dia telah menetapkan bahwa masyarakat yang kafir tidak akan dimusnahkan total ketika di tengah-tengah mereka masih ada orang yang beriman, sedangkan tidak ada nabi lagi yang membawa mereka keluar dari wilayah tersebut ke wilayah lain yang Allah subhanahu wata’ala tentukan melalui wahyu. Allah subhanahu wata’ala berfirman:

لَوْ تَزَيَّلُوا لَعَذَّبْنَا الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا

“Seandainya mereka terpisah, pasti Kami akan azab orang kafir di antara mereka dengan azab yang pedih.” (QS. al-Fath: 25)

Manusia hari ini dapat dibagi menjadi tiga golongan berdasarkan firman Allah subhanahu wata’ala:

مَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا ۖ فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهِ وَمِنْهُم مُّقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ

“Kemudian kami wariskan kitab itu kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, maka di antara mereka ada yang zhalim atas dirinya, dan di antara mereka ada yang pertengahan, dan di antara mereka ada yang mendahului dalam kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang besar” (QS. Fathir: 32)

Dalam tafsir ath-Thabari, dapat dipahami bahwa yang dimaksud orang yang zalim adalah orang yang banyak melakukan pelanggaran, yang pertengahan adalah orang yang beribadah tapi masih terdapat sejumlah kesalahan yang mereka terjatuh ke dalamnya, dan orang yang mendahului dalam kebaikan adalah orang yang telah sampai pada titik yang tinggi dalam hal kedekatan dengan Allah subhanahu wata’ala. Jika sebuah bencana terjadi dan menimpa masyarakat “heterogen” dengan keberadaan tiga kelompok tersebut, maka satu bencana bisa saja memiliki tiga status sekaligus. Sekali lagi, tidak ada dalil tentang pengelompokan ini, ini hanya untuk membantu memaknai sebuah bencana berdasarkan tuntunan syariat.

Sebuah bencana dikatakan ujian jika menyentuh orang-orang yang baik iman dan amal salehnya, yang terealisasi dalam bentuk prasangka baik dan keteguhan hati dalam kesabaran. Allah subhanahu wata’ala berfirman tentang mereka:

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ . الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

“Dan sungguh akan Kami uji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila musibah menimpa mereka, mereka berkata: ‘sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami akan kembali’” (QS. al-Baqarah: 155-156)

Mereka pada dasarnya sudah baik ibadahnya, setelah ditimpa bencana mereka semakin melejit, musibah tersebut menambah tinggi kedudukan mereka. Allah subhanahu wata’ala berfirman tentang sikap mereka:

أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

“Mereka itulah yang mendapatkan shalawat dari Tuhan mereka dan juga rahmat. Mereka itulah orang-orang yang mendapatkan petunjuk” (QS. al-Baqarah: 157)

Adapun jika sebuah bencana menimpa orang yang timbul tenggelam antar ketaatan dan kemaksiatan, maka dapat dikatakan bahwa bencana tersebut adalah teguran. Allah subhanahu wata’ala ingin mereka bersungguh-sungguh dalam kebaikan dan mulai untuk meninggalkan hal-hal yang memicu murka-Nya dengan sepenuh hati mereka. Allah subhanahu wata’ala berfirman:

وَلَنُذِيقَنَّهُم مِّنَ الْعَذَابِ الْأَدْنَىٰ دُونَ الْعَذَابِ الْأَكْبَرِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Dan Kami benar-benar akan membuat mereka merasakan sebagian azab yang dekat sebelum azab yang besar, semoga mereka kembali (pada ketaatan)” (QS. as-Sajdah: 21)

Azab yang dekat adalah bencana duniawi sedangkan azab yang besar adalah neraka pada hari kiamat. Maksiat yang selama ini mereka lakukan akan mengantarkan mereka ke neraka, Allah subhanahu wata’ala menegur dengan mencicipkan kepada mereka bencana, jika setelah itu mereka taubat dan memperbaiki diri, maka kelak mereka justru akan masuk surga.

Yang terakhir, jika sebuah bencana meliputi orang-orang yang durhaka, telah berulang kali diingatkan oleh orang-orang mushlih (punya kepedulian untuk memperbaiki masyarakat) tapi tetap saja tidak bergeming, maka dapat dikatakan bencana tersebut adalah azab. Kejadian tersebut menjadi petaka di dunia kemudian menjadi lubang yang akan menggelindingkan mereka ke arah bencana yang lebih dahsyat di akhirat kelak. Allah subhanahu wata’ala berfirman:

ذَٰلِكَ لَهُمْ خِزْيٌ فِي الدُّنْيَا ۖ وَلَهُمْ فِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“Itu adalah kehinaan untuk mereka di dunia, dan bagi mereka di akhirat azab yang besar” (QS. al-Maidah: 33)

Akan tetapi, setelah mengetahui hal ini, apakah lantas kita berhak memvonis para korban dan penyintas (yang selamat dari bencana), bahwa si A sedang diuji, si B sedang ditegur, dan si C sedang dihukum oleh Allah subhanahu wata’ala? Tentunya tidak, karena yang mampu menilai kualitas iman seseorang sebelum dan sesudah bencana terjadi hanya Allah subhanahu wata’ala semata.

رَّبُّكُمْ أَعْلَمُ بِكُمْ ۖ إِن يَشَأْ يَرْحَمْكُمْ أَوْ إِن يَشَأْ يُعَذِّبْكُمْ

“Tuhan kalian lebih mengetahui (keadaan) kalian, jika Dia berkehendak Dia merahmati kalian, atau jika Dia berkehendak Dia mengazab kalian” (QS. Al-Isra: 54)

Karena itu, orang yang menyaksikan bencana tak perlu terburu-buru dan menyibukkan diri menghakimi orang lain di depan khalayak atau media sosial dengan mengatakan “Kota ini sedang disiksa karena seluruh warganya durhaka pada Allah subhanahu wata’ala.” Cukuplah mengetahui ketiga hal itu menjadi pelajaran untuk mengintrospeksi diri sendiri. Di sisa lain, jauh lebih bermanfaat jika kita memberikan penguatan, menuntun para penyintas untuk bersabar dan ber-istirja’ (mengucapkan kalimat innalillah), mendoakan yang meninggal, dan memulihkan kondisi dengan segenap tenaga dan materi yang dimiliki.

Adapun mereka yang menjadi korban, wajib untuk terus berprasangka baik pada Allah subhanahu wata’ala. Dia seyogyanya meyakini bahwa apa yang tengah dihadapi adalah ujian bagi keimanannya dan atau teguran atas dosa yang selama ini masih dilakoni. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan dalam hadis qudsi:

[عن أبي هريرة:] إنَّ اللهَ جلَّ وعلا يقولُ: أنا عندَ ظنِّ عبدي بي إنْ ظنَّ خيرًا فله وإنْ ظنَّ شرًّا فله

“Dari Abu Hurairah, ‘Sesungguhnya Allah berfirman: Aku sesuai prasangka hamba-Ku pada-Ku. Jika dia berprasangka baik maka baginya (kebaikan itu), dan jika dia berprasangka buruk maka baginya (keburukan itu)” (HR. Ibnu Hibban)

Jangan sama sekali dia menggapnya azab karena hal tersebut menyiratkan fikiran bahwa Allah subhanahu wata’ala membencinya sehingga menghukumnya. Hal seperti ini akan menjerumuskan pada sikap putus asa terhadap rahmat Allah subhanahu wata’ala, padahal sikap seperti ini diharamkan, seperti dalam firman-Nya:

 

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian  berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53)

Orang-orang yang menyaksikan sebuah bencana, bagaimana seharusnya mereka bersikap?

Orang-orang yang menyaksikan atau mengetahui terjadinya sebuah bencana – bencana, secara langsung maupun melalui media – terbagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama adalah – lagi-lagi – orang yang setelah menyaksikannya maka ia mengambil pelajaran kemudian ketakwaannya kepada Allah subhanahu wata’ala semakin meningkat. Allah subhanahu wata’ala berfirman:

إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَذِكْرَىٰ لِمَن كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ

“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.” (QS. Qaf: 37(

Kelompok kedua adalah orang-orang yang tidak merasakan manfaat apapun dalam hal keimanan. Kejadian yang disaksikan tidak berbekas sedikit pun di dalam hati dan dia menganggapnya hal yang biasa-biasa saja. Allah subhanahu wata’ala berfirman:

قُلِ انظُرُوا مَاذَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ وَمَا تُغْنِي الْآيَاتُ وَالنُّذُرُ عَن قَوْمٍ لَّا يُؤْمِنُونَ

“Katakanlah: Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman.” (QS. Yunus: 101)

Bencana itu fenomena alam atau kehendak Allah subhanahu wata’ala?

Fenomena, menurut KBBI, adalah hal-hal yang dapat disaksikan dengan pancaindra dan dapat diterangkan serta dinilai secara ilmiah. Dengan pengertian ini, maka bencana alam masuk ke dalam kategori fenomena alam. Di sisi lain, teks Quran dan hadis menegaskan bahwa sebuah bencana terjadi atas perintah Allah subhanahu wata’ala. Apakah dua hal ini bertentangan? Sama sekali tidak. Kita memahami bahwa memang segala sesuatu di dunia ini – kecil maupun besar – terjadi atas kehendak atau izin dari Tuhan semesta alam. Kehendak atau izin tersebut Allah subhanahu wata’ala tuangkan dalam bentuk hukum alam, dalam rangkaian sebab-akibat yang secara umum mampu dipahami oleh nalar manusia.

Allah subhanahu wata’ala yang menciptakan manusia, namun manusia tidak langsung muncul begitu saja, melainkan melalui tahapan biologis yang sudah dipahami, dan hal ini juga disebutkan dalam Quran:

خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ

“Dia menciptakan manusia dari segumpal darah (yang berasal dari mani yang kemudian tumbuh menjadi janin)” (QS. Al-Alaq: 2).

Allah subhanahu wata’ala yang menurunkan hujan, tetapi hujan turun bukan dari ketiadaan, melainkan dari awan pada siklus yang telah diterangkan oleh ipteks dan juga oleh Quran:

اللَّهُ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ فَتُثِيرُ سَحَابًا فَيَبْسُطُهُ فِي السَّمَاءِ كَيْفَ يَشَاءُ وَيَجْعَلُهُ كِسَفًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلَالِهِ ۖ فَإِذَا أَصَابَ بِهِ مَن يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ إِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُونَ

“Allah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hamba-Nya yang dikehendakiNya, tiba-tiba mereka bergembira.” (QS. Ar-Rum: 48)

Begitu pun bencana alam, Allah subhanahu wata’ala yang menciptakan gempa, Dialah yang memberikan daya pada lempeng tektonik untuk bergerak – seperti dalam firman-Nya:

وَتَرَى الْجِبَالَ تَحْسَبُهَا جَامِدَةً وَهِيَ تَمُرُّ مَرَّ السَّحَابِ

“Kamu lihat gunung itu, kamu menyangkanya diam padahal dia bergerak seperti bergeraknya awan” (QS. An-Naml: 88).

Hingga bertubrukan di dasar samudra, menimbulkan goncangan yang amat dahsyat, memindahkan secara cepat massa air laut ke daratan sebagai sebuah tsunami, dan menggetarkan tanah berair hingga memicu likuifaksi yang menelan segala sesuatu yang ada di atasnya.

Pertumbuhan janin adalah fenomena, siklus air adalah fenomena, bencana alam adalah fenomena, segala sesuatu di bumi ini adalah fenomena, dan fenomena tersebut terjadi dengan rumus rancangan Zat Yang Maha Mengetahui dan Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Allah subhanahu wata’ala berfirman:

وَعِندَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ

“Di sisi-Nya kunci-kunci ghaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri. Dia mengetahui apa yang di darat dan di laut. Tidak ada yang jatuh berupa daun melainkan Dia mengetahuinya, tidak pula biji-bijian yang ada dalam kegelapan bumi, tidak pula sesuatu yang basah maupun yang kering kecuali (tercatat) pada kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)” (QS. Al-An’am: 59)

Jika bencana adalah azab, mengapa banyak masyarakat yang durhaka tetapi hingga saat ini aman-aman saja?

Jika gempa dapat menjadi azab, mengapa di pulau tertentu – seperti Kalimantan – tidak terdapat aktivitas sesar pemicu gempa, apakah semua penduduknya suci dari dosa sehingga tidak terancam bencana? Kemudian, Jika keamanan suatu wilayah dikaitakan dengan kesalehan, bagaimana dengan negera-negara yang penduduknya mayoritas non-muslim namun kian kemari kian makmur? Demikian beberapa pertanyaan yang sering timbul ketika fenomena bencana dikaitkan dengan nilai-nilai religius.

Jika pulau Kalimantan nampak aman dari potensi gempa kemudian dikatakan bahwa hal ini menyalahi pernyataan bahwa gempa dipicu oleh dosa maka ini pandangan yang sempit. Kita memahami bahwa selain gempa ada berbagai jenis bencana lain yang mengancam, baik pulau Kalimantan maupun seluruh tempat di permukaan bumi ini.

Adapun daerah yang hingga saat ini belum pernah disentuh bencana, maka ada beberapa kondisi yang perlu diuraikan satu per satu. Jika di suatu kawasan terdapat kebaikan dalam kehidupan beragama maka hal tersebut bisa menjadi faktor utama perlindungan dari musibah; di antaranya ada dua hal utama. Yang pertama adalah istigfar. Allah subhanahu wata’ala berfirman:

وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

“Dan tidak mungkin Allah mengazab mereka sedangkan mereka beristigfar” (QS. Al-Anfal)

Yang kedua adalah al-islah atau usaha perbaikan anggota masyarakat tertentu terhadap anggota masyarakat lain yang menyimpang. Allah subhanahu wata’ala berfirman:

وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَىٰ بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُونَ

“Dan tidak mungkin Tuhanmu menghancurkan suatu negeri dengan zalim padahal penduduknya melakukan perbaikan-perbaikan” (QS. Hud: 117)

Inilah amalan tolak bala yang sesungguhnya, bukan dengan larung sesajen atau ritual syirik lainnya yang sejatinya justru menjadi pengundang bala.

Adapun jika suatu daerah didominasi keburukan bahkan kekufuran dan belum tersentuh bencana maka juga ada setidaknya dua kemungkinan. Pertama, Allah subhanahu wata’ala mengulur waktu sehingga mereka terus menumpuk dosa. Oleh karena itu, kita tidak boleh tertipu dengan kesenangan hidup yang meliputi mereka. Allah subhanahu wata’ala berfirman:

وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ خَيْرٌ لِّأَنفُسِهِمْ ۚ إِنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ لِيَزْدَادُوا إِثْمًا ۚ وَلَهُمْ عَذَابٌ مُّهِينٌ

“Dan janganlah orang-orang kafir itu mengira bahwa Kami mengulur waktu mereka itu baik untuk mereka! Sesungguhnya Kami hanya mengulur waktu mereka agar bertambah dosa mereka dan bagi mereka (kelak) azab yang menghinakan” (QS. Ali Imran: 178)

لَا يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي الْبِلَادِ. مَتَاعٌ قَلِيلٌ ثُمَّ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۚ وَبِئْسَ الْمِهَادُ

“Janganlah kehidupan orang-orang kafir di negeri-negeri (mereka) membuatmu tertipu. Itu hanya kenikmatan yang sedikit, kemudian (kelak) tempat tinggal mereka adalah neraka Jahannam, dan dia adalah tempat yang terburuk” (QS. Ali Imran: 196)

Kedua, Allah subhanahu wata’ala masih memberikan kesempatan untuk berfikir dan kembali pada ketaatan. Ini nyata merupakan bagian dari kasih sayang Allah subhanahu wata’ala, karena seandainya setiap dosa dibayar “kontan” dengan musibah, mungkin manusia akan punah dalam waktu singkat. Allah subhanahu wata’ala berfirman:

وَرَبُّكَ الْغَفُورُ ذُو الرَّحْمَةِ ۖ لَوْ يُؤَاخِذُهُم بِمَا كَسَبُوا لَعَجَّلَ لَهُمُ الْعَذَابَ ۚ بَل لَّهُم مَّوْعِدٌ لَّن يَجِدُوا مِن دُونِهِ مَوْئِلًا

“Dan Tuhanmu Maha Pengampun lagi memiliki rahmat. Seandainya Dia menghukum mereka dengan (setiap) yang mereka kerjakan pastilah Dia telah menyegerakan azab bagi mereka. Tetapi (tidak demikian), bagi mereka ada perjanjian (waktu) yang (ketika telah tiba) mereka tidak akan mendapatkan tempat berlindung darinya” (QS. al-Kahfi: 59)

Ketika membaca tulisan ini Alhamdulillah kita masih menikmati hidup. Hanya Allah subhanahu wata’ala dan kita sendiri yang tahu apa yang telah kita lakukan sejak lampau hingga detik ini. Namun, masih mampunya kita hari ini untuk bernafas adalah bukti nyata kasih sayang Allah subhanahu wata’ala; yakni kesempatan untuk terus melakukan dua hal besar: memperbaiki kesalahan dan menambah kebaikan. Wallahu a’lam. []


*Staff Departemen Ke-LDK-an PP Lidmi Periode 1439-1441 H/ 2017-2019 M

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *