Lingkar Dakwah

Merenungi 20 Tahun Reformasi, Antara Cita Dan Realita

Oleh: Hamri Muin

(Ketua PP Lidmi Periode 1439-1441 H/ 2017-2019 M)

Reformasi merupakan momen bersejarah Nusantara yang tercatat rapi, karena dengannya muncul era baru demokrasi. Hal ini diawali dengan turunnya Soeharto sebagai presiden Indonesia yang bertahan cukup lama, 32 tahun. Peristiwa ini merupakan sejarah yang begitu penting untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Reformasi muncul dengan tujuan menjadikan Indonesia lebih baik dari zaman sebelumnya, entah orde lama atau orde baru, dengan cita-cita agar Indonesia menjadi lebih baik dalam segala sisi, baik dalam politik, sosial dan budaya.

Diantara tujuan reformasi yang perlu diingat dan menjadi bahan evaluasi untuk setiap jiwa yang mengalir padanya darah negeri ini, adalah:

  1. Memperbaharui tatanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dalam segala bidang.
  2. Tercapainya nilai-nilai pancasila dan UUD 1945.
  3. Mencapai keadilan bagi seluruh rakyat indonesia.
  4. Melakukan perbaikan di segala bidang.
  5. Mewujudkan integritas bangsa.
  6. Dan beberapa hal lain yang utama yang ingin di wujudkan dengan reformasi.

Semua tujuan yang ingin dicapai menguncup pada satu cita, yakni Indonesia menjadi semakin baik, menjadi negeri yang adil, makmur dan senantiasa berada pada nilai-nilai​ yang terkandung jelas dalam 4 pilar kebangsaan yakni Pancasila, Bihneka Tuggal Ika, Undang-undang Dasar 1945, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Momen hari ini, menjadi bahan renungan selama 20 tahun, bagi negeri yang telah menjadikan sistem demokrasi sebagai langkah pijakan dalam bergerak.

Sekarang saatnya untuk melirik kembali apakah tujuan-tujuan yang ingin diwujudkan dengan reformasi tersebut telah terwujud?

Tentu menjadi tugas bersama, peristiwa sejarah adalah peristiwa yang harus dipelajari, peristiwa yang tidak bisa disesalkan karena telah terjadi. Maka peristiwa ini harus dijadikan landasan pijakan dalam melangkah, memperbaiki segala hal yang tidak sesuai dengan apa yang menjadi harapan pilar-pilar​ kebangsaan tersebut di atas.

Jika dilihat secara universal, telah banyak perubahan positif yang muncul setelah reformasi tersebut digaungkan selama 20 tahun, dan telah banyak produk-produk baru yang telah dihasilkan. Namun, tetap masih ada hal-hal​ yang harus senantiasa dievaluasi dan diperbaiki.

Diantara contohnya, masih adanya masalah kebangsaan yang tidak menggambarkan perwujudan nilai-nilai​ pilar kebangsaan pada diri setiap insan, baik itu dari pemerintah, birokrasi, masyarakat, mahasiswa maupun instansi swasta yang ada di negeri ini.

Diantara hal yang menjadi renungan adalah adanya kemerosotan akhlak dan degradasi wawasan kebangsaan yang  tercermin dalam perilaku yang mengedepankan nilai-nilai individualisme, kapitalisme, liberalisme. Sehingga nilai-nilai yang diharapakan dengan pilar yang ada seakan-akan tak lagi di butuhkan. Dan semua ini takkan terlepas dari peristiwa reformasi.

Ingatlah ketika Allah berfirman dalam Al Qur’an (yang artinya):
“Sungguh kaum saba’ ada tanda (kebesaran Rabb) kediaman mereka yaitu dua buah kebun disebelah kanan dan disebelah kiri, makanlah makanlah dari rezki yang di anugrahkan tuhan kalian dan bersyukurlah kepadanya’ Baldatun Tahayyibatun Wa Rabbun Ghaffur.” (TQS. Saba: 15).

Harapan terbaik untuk negeri ini dengan sistem yang telah berubah adalah agar negeri ini bisa mendapatkan gelar sebagai negeri yang Baldatun Tahayyibatun Wa Rabbun ghaffur. Menjadi negeri yang baik, negeri yang senantiasa mendapat ampunan dari Rabbul ‘Alamin.

Namun, hal ini tidak akan terwujud jika hanya mau memaksimalkan pola-pola dan pemikiran-pemikiran dari manusia yakni sistem yang hanya bersumber dari manusia semata tanpa dibarengi dengan apa yang menjadi petunjuk dari Rabbul Alamin.

Maka nilai-nilai kebangsaan harus kembali berasas pada Al Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad Shallahu Alaihi wasallam. Sistem yang ada harus merujuk kepada keduanya, baik mereka yang terlibat sebagai pemerintah, penguasa dan masyarakat maupun yang lainnya harus senantiasa menjaga nilai-nilai Al Qur’an dan Sunnah.

Maka ketika itu bisa terwujud, maka apa yang menjadi harapan atau tujuan awal dari reformasi akan terwujud, Insya Allah.

Wallahu ‘alam bishowab

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *