Lingkar Dakwah

Refleksi Akhir Tahun Bagi Hamba yang Berfikir

86Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada baginda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, keluarga dan para sahabatnya.

Tidak terasa tibalah kita pada hingar bingar agenda tahunan dan ancaman laten bagi masyarakat muslim di negeri ini. Hal ini selalu disuguhkan kepada kita setiap tahunnya melalui perayaan besar yang rutin dilakukan oleh hampir seluruh warga dunia. Apalagi kalau bukan perayaan tahun baru. Perayaan yang dibuat secara meriah dan tentu saja dengan biaya yang tidak murah. Itulah malam pergantian tahun baru masehi yang seolah-olah memiliki sihir sehingga menjadi sangat ditunggu-tunggu oleh hampir semua kalangan ini, tak terhitung jumlah yang terjangkit virus krisis identitas ini.

Anehnya tahun baru masehi pada zaman kita ini dirayakan dengan besar-besaran. Suara terompet dan tontonan kembang api hampir menghiasi seluruh penjuru bumi di barat dan di timurnya. Tidak bisa dibedakan negara yang mayoritas penduduknya kafir ataupun muslim. Padahal, perayaan tersebut identik dengan hari besar orang Yahudi, Nasrani dan Majusi.

Namun kita sebagai hamba yang hidup di dunia yang penuh dengan segala keterbatasannya ini,  seolah larut dengan euforia tradisi yang penuh dengan kebatilan ini yang notabene membuat kita latah dan tak sadarkan diri. Tak sadarkah kita bahwa waktu maupun kesempatan yang ada di alam ini akan berlalu, seperti malam yang meninggalkan pagi yang merangkai misteri dalam bingkai cerita yang penuh dengan tanda tanya, namun pasti seperti “maut” yang menjumpai jiwa yang masih terbalut raga. Masihkah kita akan membiarkan waktu berlalu tanpa sesuatu, atau kita berpasrah diri ditelan keadaan,  apalagi pesta sesaat yang penuh dengan kemaksiatan.

Detik demi detik seolah tak pamit pada kita saat berganti ke waktu yang lain. Sadarkah kita kemarin dan hari ini merupakan bilangan waktu yang sudah terlalui, minggu ini kan beranjak, bulan ini akan pergi, tahun ini akan meninggalkan kita dan pasti kita akan dihisab oleh pemilik alam semesta ini. Begitulah sejarah kehidupan manusia di alam ini sampai berujung pada kematian yang menghampiri.

Padahal sebagian kita paham betul bahwa ini murni bukan budaya islam. Sesungguhnya keyakinan-keyakinan batil tersebut diadopsi dari keyakinan batil Yahudi, Nasrani dan Majusi, yang hakikatnya, mengadopsi dan meniru budaya batil ini adalah sebuah keharaman. Hal ini telah dijelaskan oleh teladan terbaik umat ini, yakni baginda Nabi shallallahu alaihi wasalam. Beliau dengan tegas menyatakan bahwa barang siapa yang bertasyabbuh (menyerupai) kepada satu kaum, bertasyabbuh di sini maknanya adalah usaha seseorang untuk menyerupai orang lain yang ingin dia sama dengannya, baik dalam penampilan, karakteristik maupun atribut. Jika hal ini terjadi, maka orang tersebut adalah bagian dari mereka namun pemahaman itu seolah pergi dari dada-dada umat muslim di negeri yang katanya mayoritas muslim ini, hanya karena tergerus oleh derasnya arus kebudayaan yang cenderung berujung pada pendangkalan akidah dari paham  agama yang sempurna ini.

Di antara perkara fundamental dari agama kita adalah memberikan kecintaan kepada Islam dan pemeluknya, berbara’ (membenci dan berlepas diri) dari kekufuran dan para ahlinya. Tanda bara’ yang paling nampak dengan berbedanya seorang muslim dari orang kafir, bangga dengan agamanya dan merasa terhormat dengan Islamnya. Seberapapun hebat kekuatan orang kafir dan kemajuan peradaban mereka.

Walaupun kondisi orang muslim lemah, terbelakang, dan terpecah-pecah sekalipun. Sedangkan kekuatan kafir sangat hebat, tetap kaum muslimin tidak boleh menjadikannya sebagai dalih untuk mengekor kepada kaum kuffar dan menjustifikasi untuk menyerupai mereka sebagaimana yang diserukan kaum munafikin dan para penjajah.

Semua itu dikarenakan teks-teks syar’i yang mengharamkan tasyabbuh (menyerupai) dengan orang kafir dan larangan mengekor kepada mereka tidak membedakan antara kondisi lemah dan kuat. Juga karena seorang muslim -dengan segenap kemampuannya- harus merasa mulia dengan agamanya dan terhormat dengan keislamannya.

Olehnya sebagai muslim yang cerdas sudah saatnya meninggalkan  kesia-sian ini. Ayo, mari merenung dan berbenah diri akan bahaya perayaan ini. Sadarkah kita bahwa waktu yang berlalu tak akan pernah kembali, dan moment itu akan segera usang ditelan jaman dan menjadi kenangan, yang terkadang terasa berlari atau merangkak begitu lambat. Namun yang pasti dia tak akan pernah berhenti lalu meninggalkan kita yang masih tergagap, dan ternganga-nganga akan perayaan satanis ini.

Ingatlah wahai kaum muslimin sekalipun langit runtuh, dan bumi mendadak beku, untuk sebuah penyesalan di akhir nanti semuanya pasti tak akan berarti. Sadarilah bumi ini terus berputar roda zaman terus menggilas dan menyeret kita. Apa yang telah pergi tak akan sama dengan apa yang akan datang kembali sekali harus berarti karena yang Maha Menciptakan telah bersumpah demi waktu sesungguhnya manusia dalam keadaan yang merugi, kecuali
mereka yang beriman dan yang selalu saling menasehati dalam hal kebaikan dan kesabaran.

Semoga Allah membimbing kita kepada kondisi yang lebih diridhai-Nya, dan dikumpulkan dalam syurganya, serta tidak menyimpang dari aturan Islam dan tidak bertasyabbuh dengan kaum kafir dalam acara-acara mereka.

Abu Abid Alfatih,
Anggota kastra LIDMI Palu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *