Lingkar Dakwah

Tak Hanya di Layar Kaca, Tarung Bebas Kini digiati Kader dan Pengurus LDK Ini

MAKASSAR – Tarung bebas  atau lebih dikenal dengan sebutan seni bela diri campuran/ Mixed Martial Arts (MMA) adalah olahraga kontak yang memperbolehkan berbagai teknik pertarungan, seperti pergumulan, tendangan, dan pukulan. Di dalam MMA, masing-masing praktisi didorong untuk mengkombinasikan teknik dari berbagai cabang seni bela diri untuk melumpuhkan lawan. Seni bela diri ini menjadi tersohor di Indonesia sejak adanya stasiun televisi swasta yang menayangkannya sebagai kompetisi memperebutkan juara utama.

Tak hanya dilayar kaca, teknik bela diri itu ternyata digiati oleh sebuah Lembaga Dakwah Kampus (LDK) yang mengikutkan kader dan pengurusnya sebagai salah satu tarbiyah jasadiyah yakni pendidikan raga sebagai bekal utama dalam dakwah. Lembaga itu adalah LDK Forum Studi Islam Raudhatul Ilmi Universitas Negeri Makassar (FSI RI UNM).

LDK FSI RI UNM menjadikannya sebagai kegiatan rutin pekanan yang diikuti oleh seluruh kader tarbiyah dan pengurus LDK maupun Lembaga Dakwah Fakultas (LDF) dengan menghadirkan pelatih pegiat MMA yang juga merupakan alumni UNM, Ustadz Agus Salim.

Muhammad Julmawansyah selaku Ketua Umum LDK FSI RI UNM mengatakan, pelatihan ini sudah dilaksanakan selama dua periode kepengurusan yang menjadi program kerja andalan untuk memberikan semangat kader dan pengurus dalam berdakwah.

“sekarang kita butuhkan ilmu bela diri karena agama Islam menyukai mukmin yang kuat daripada mukmin yang lemah. Juga persiapan kedepan dimana disaksikan agama Islam ditindas dimana-mana”, terangnya via panggilan suara aplikasi WhatsApp, Sabtu (9/11).

Menurut Agus Salim selaku Instruktur pelatihan, bela diri ini ditujukan agar para peserta mengetahui teknik Self Defence (mempertahankan diri) disaat-saat sempit, bukan untuk memukul orang lain atau mencari lawan sehingga membuat kerusuhan.

“Kelebihan MMA ini dibanding bela diri yang lain adalah adanya teknik Ground Fighting (Pertarungan lantai) yang kebanyakan perkelahian jalanan berakhir disitu. Juga kita tiap pertemuan ada sparring (adu tanding) sehingga membuat peserta mudah mengingat teknik yang telah dipelajari”, terangnya.

Teknik bela diri yang dipelajari tiap pertemuan bermacam-macam, mulai dari Silat, Boxing (tinju), Knife Fighting (Teknik Pisau), Mua Thai, dan Brazilian Jiu Jitsu (BJJ), yang dilaksanakan rutin tiap sabtu bertempat di pelataran masjid kampus Ulil Albab UNM. (*rh)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *