Lingkar Dakwah

Tangkal Pemikiran Menyimpang di Kampus, Lidmi Bulukumba Hadirkan Pemateri Nasional

Bulukumba – Dalam rangka membentengi pemikiran aktivis dakwah kampus, Pimpinan Daerah Lingkar Dakwah Mahasiswa Indonesia (PD Lidmi) Bulukumba menggelar Kuliah Pemikiran Islam (KUPAS) di Aula Kampus Akademi Keperawatan Pemerintah Daerah Bulukumba, Jalan BTN 1 Kecamatan Gantarang, Sabtu (11/8/2018).

Hadir sebagai pembicara, Alumni Program Kaderisasi Ulama DDII-Baznas, Ustad Syamsuar Hamka yang juga menjabat sebagai Anggota Majelis Syuro Organisasi (MSO) Pimpinan Pusat Lidmi.

Dihadapan peserta KUPAS yang terdiri dari pengurus PD Lidmi Bulukumba serta beberapa Aktivis dakwah kampus dan sekolah, Ustad Syamsuar menyampaikan beberapa poin pokok yang harus dimiliki oleh seorang Aktivis dakwah.

Pertama, kata Syamsuar, semua Muslim sangat penting memiliki konsep ideologi yang benar.

“Jika ideologi yang kita gunakan saat ini adalah ideologi Barat, maka kita akan salah dalam mengejewantahkan konsep yang terkandung dalam Alquran,” ungkapnya.

Sejarah sebuah peradaban, lanjut Syamsuar, akan mempengaruhi di sisi mana kita akan mengambil kebenaran.

“Sehingga yang harus kita pahami adalah bagaimana kondisi peradaban Barat dan peradaban Islam dalam mempengaruhi ideologi seorang Muslim,” ujarnya.

“Jika konsep ideologi itu telah terbentuk pada setiap Muslim, maka kita akan mampu membentengi diri kita dari pemikiran-pemikiran menyimpang seperti Sekulerisme dan Liberalisme,” pungkas Alumnus Program Pascasarjana Universitas Ibnu Khaldun (UIKA) Bogor ini.

Amrul Abu Khair selaku pengurus PD Lidmi Bulukumba mengatakan, kegiatan ini adalah sesi KUPAS yang pertama dilaksanakan oleh PD Lidmi Bulukumba.

“Insya Allah akan kami jadikan program kerja di periode kepengurusan selanjutnya,” kata Amrul.

Sebagaimana diketahui, KUPAS merupakan program kerja Departemen Kajian Strategis Pimpinan Pusat Lidmi, yang digelar secara nasional untuk memperkenalkan konsep pemikiran Islam yang benar kepada mahasiswa Indonesia, khususnya Aktivis Dakwah Kampus, untuk bisa melawan penyebaran pemikiran-pemikiran menyimpang di Nusantara. (RH)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *