Lingkar Dakwah

Virus Merah Jambu Sesama Aktivis Dakwah Kampus (Bagian I)

“Tidaklah sepeninggalku ada ujian yang lebih berat bagi seorang lelaki kecuali ujian karena wanita”

(Mutafaqun Alaih)

MARI MENGAMBIL IBROH

 Akhi, belajarlah pada sejarah karena sungguh pengalaman adalah guru yang terbaik. Mari belajar dari sejarah para pendahulu kita.

Ingatkah kita dengan kisah nabi Adam ‘alaihissalam? Nabi Adam ‘alaihissalam di keluarkan dari surga karena seorang wanita (Hawa). Bukankah bila kita membaca buku-buku tafsir, sesungguhnya saat itu nabi Adam ‘alaihissalam tidak ingin memankan buah khuldi, namun karena bujukan wanita (Hawa) akhirnya sang lelaki  (Adam) itu pun mengikuti ajakan sang wanita.

Demikian pula dengan kisah Fir`aun, ia kehilangan kekuasaaanya juga karena wanita. Bukankah demi menjaga kekuasaannya, Fir`aun memerintahkan membunuh semua bayi laki-laki yang lahir saat itu? Sehingga Ibu Nabi Musa ‘alaihissalam harus mengalirkan putranya di sungai dan berharap ada yang menyelamatkannya. Allah subhana wata`ala kemudian memilih istri Fir`aun sebagai orang yang menemukan bayi tersebut lalu dipeliharanya dengan terlebih dahulu meminta izin suaminya. Fir’aun pun mengabulkan permintaan wanita tersebut. Akhirnya, kekuasaan dan kesombongan Fir`aun dapat diruntuhkan oleh nabi Musa ‘alaihissalam.

Dipenjarakannya nabi Yusuf ‘alaihissalam, juga atas tipu muslihat seorang wanita. Ketika Istri Raja begitu tergila-gila dengan ketampanan Nabi Yusuf ‘alaihissalam hingga membuat jebakan agar mereka berada berdua di dalam kamar. Yusuf memang mampu menolak ajakan tersebut dan sedang berusaha meninggalkan kamar, namun belum sempat keluar, tiba-tiba sang Raja, suami wanita yang bersama Yusuf saat itu, sudah lebih dulu memergoki mereka. Yusuf pun dipenjarakan atas fitnah wanita tersebut, padahal Yusuf sama sekali tidak pernah berniat buruk pada wanita itu.

Akhi, nabi Adam ‘alaihissalam, Fir`aun laknatullah `alaihi dan nabi Musa ‘alaihissalam, malapetaka yang menimpa mereka sebabnya adalah wanita, belum mampukah itu menjadi pelajaran?

“Sesungguhnya dunia ini manis dan hijau. Allah menjadikan kalian sebagai khalifah padanya. Kemudian dia melihat bagaimana kalian bertindak. Maka takutlah kepada dunia dan takutlah kepada wanita. Sebab ujian yang pertama kali terjadi pada Bani Israil adalah karena wanita.”

(HR.Muslim)

Ukhti, akan kuingatkan engkau dengan kisah yang pernah dibacakan dalam program radio ‘Nurani’.

Berawal dari koordinasi dalam kepanitiaan walimah (baca: pernikahan), ikhwah-akhwat ini menjalin komunikasi. Berlanjut pada kirim-kiriman sms dakwah untuk saling menguatkan hati. Hingga keduanya pun saling berani; sang ikhwah memanggil dengan sebutan ukhti dan sang akhwat pun merespon dengan panggilan akhi. Akhirnya  hubungan tanpa status terus berlanjut. Sapaan Akhi-ukhti berubah dengan panggilan mesra; sayang.

Karena keduanya sudah saling terikat hati, berkomitmenlah sang ikhwah untuk melamar sang pujaan hati. Namun qaddarallah maasyafa`al, apa yang Allah takdirkan itulah yang terjadi. Orang tua sang akhwat ternyata menolak pinangan ikhwah tersebut karena berpenghasilan belum tetap. Sang ikhwah pun pulang dengan kecewa, apalagi si akhwat. Tak lama berselang, akhwat tadi mendengar kabar bahwa ikhwah tersebut sudah menikah dengan akhwat yang lain.

Ya Allah…kemana sms dakwah selama ini? Kemana  akhi-ukhti tersebut? Kemana ‘sayang’ nya yang dahulu begitu mesra? Kini sang akhwat tersebut tinggal merenungi nasib, menyesal atas hijab yang tersingkap. Si ikhwah berakhir dengan walimah dan sang akhwat hanya berakhir dengan goresan penuh kenangan pahit sebagai pelajaran kepada ummahat lewat program radio‘nurani’.

RAHMAT ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA SANGAT LUAS

 Dalam hadits riwayat Bukhari-Muslim, seorang Badui yang buang air di dalam masjid dan berdoa: “Ya Allah, Rahmatilah aku dan Muhammad. Janganlah Engkau merahmati selainnya”. Ia jengkel karena saat itu para Sahabat menegurnya dengan kasar. Adapun Rasulullah sallallahu `alaihi wasallam  menegurnya dengan halus dan penuh kelembutan. Mendengarkan doa tersebut, Rasulullah sallallahu `alaihi wasallam bersabda: “janganlah engkau menyempitkan rahmat Allah yang luas”. Saat ia membatasi rahmat untuk dirinya dan Muhammad berarti ia telah membatasi rahmat Allah subhanahu wata’ala yang begitu luas kepada seluruh sahabat bahkan kepada seluruh makhluk.

Aku pun berkata kepadamu saudaraku…

Janganlah engkau menyempitkan rahmat Allah subhanahu wata’ala yang luas. Jikalau engkau sudah menjalin ikatan hati saat ini dengan seorang akhwat, berarti engkau telah menyempitkan rahmat Allah subhanahu wata’ala yang sangat luas.

Rahmat Allah subhanahu wata’ala berupa wanita yang sholihah/ lelaki sholih di dunia ini begitu banyak, bukan hanya wanita atau lelaki yang saat ini engkau rajin  berkomunikasi dengannya.

Jika engkau sudah bermain mata dengannya saat ini, maka pada saat engkau akan menikah nanti, maka hanya ada satu pilihan, yaitu hanya menikahi akhwat/ ikhwah yang sudah sejak lama engkau menjalin komunikasi denganya.

Padahal masih ada ribuan akhwat di belahan bumi yang lain, yang mungkin lebih sholihah, lebih cantik, lebih banyak hartanya, lebih baik keturunannya, lebih baik kepribadiannya, lebih penyabar, lebih pandai memasak, lebih lembut perangainya, lebih taat pada suaminya, lebih banyak hafalan Qur’annya, dibandingkan dengan wanita tersebut. Hubunganmu dengannya saat ini hanya membatasi kebebasanmu untuk memilih istri pada saatnya nanti.

Kepada saudariku muslimah…

Komunikasimu saat ini hanya akan menyempitkan anugrah Allah subhanahu wata’ala yang luas kepadamu, karena lelaki yang engkau rutin berkomunikasi dengannya hari ini, boleh jadi bukanlah yang terbaik untukmu.

Jikalau ada lelaki yang sebenarnya baik agama dan akhlaknya datang kepadamu sebelum si dia mendatangimu, tentu engkau akan berat menerimanya karena hatimu dan hatinya sudah saling terikat walau tanpa ikatan.

Padahal mungkin lelaki yang sudah datang lebih awal tersebut, bisa jadi agama dan akhlaknya, kepribadiannya, tanggungjawabnya, penghasilannya, lebih baik dari pada ikhwah yang selama ini engkau sering menjalin komunikasi dengannya.

Wahai saudaraku…

Jika telah ada akhwat yang memikat hatimu, maka bersegeralah untuk menikahinya, InsyaAllah itu lebih suci untuk kalian, menghindarkan diri dari zina hati.

Namun jikalau memang engkau belum berniat menikah saat ini, maka masih banyak kemungkinan yang bisa terjadi ke depan.

Mungkin engkau sudah berharap pada seorang akhwat yang telah engkau simpan hatinya, namun ternyata ada lelaki lain yang mendahuluimu untuk melamarnya, yang bisa jadi orang tua sang akhwat telah ridho dengan agama dan akhlaknya dan orang tuanya pun menikahkankan mereka. Tentu sang akhwat tidak mampu berbuat apa-apa untuk menolak perintah kedua orang tuanya.

Kepada akhwat…

Mungkin engkau sedang menunggu kehadiran laki-laki itu dan yakin sekali ia akan menjadi pangeranmu, namun ternyata di tengah perjalanan, ia mendapati akhwat yang lebih baik darimu hingga ia pun meninggalkanmu dan memilih akhwat yang lebih baik tersebut.

Ataukah ternyata sang ikhwah tersebut dinikahkan dengan wanita pilihan orang tuanya, dan menikahlah ia dengan wanita tersebut. Akhirnya, engkau tinggal menjadi kenangan untuknya.

Ajal juga siapa yang tahu saudariku. Siapa yang bisa menjamin esok atau lusa kita ini masih hidup. Mungkin hari ini kita berharap mendapatkannya namun ternyata Allah subhanahu wata’ala lebih dulu memanggilnya.

Lalu untuk apa berhubungan tanpa status saat ini? Tak lebih sekedar hubungan untuk ikatan yang tak pasti.

Akhi…

Ukhti…

Segala komunikasi yang telah engkau bangun selama ini, tentu hal tersebut belum mampu secara menyeluruh mengetahui perangai si dia.

Bisa jadi suatu saat nanti engkau mendapati perangai yang engkau tak inginkan darinya, baik info tersebut engkau dapati dari orang-orang terdekatnya ataukah engkau baru tahu saat kalian ta`arrufan bahkan mungkin baru ketahuan saat ia jadi pendampingmu. Mungkin cerewet, tidak pandai masak, kurang lembut, hartanya sedikit, keluarganya kurang baik, sukunya yang tidak sama denganmu (jika engkau memang mempertimbangkan segala aspek keduniaan tersebut), dan berbagai kemungkinan buruk yang lain.

Akhwat pun demikian. Boleh jadi penampakan perfect si dia hari ini belum menggambarkan kepribadian lelaki tersebut yang sesungguhnya.

Bisa jadi engkau baru tau bahwa ternyata ia juga pernah menjalin kisah dengan banyak akhwat yang lain. Ataukah engkau baru tau bahwa ternyata ia adalah pemarah dan berwatak keras,tak pandai bersikap lembut pada wanita, pemalas, ibadahnya tidak kuat, tidak pernah tahajjud – sholat duha dan puasa sunnah, ataukah penghasilannya pas-pasan, bahkan mungkin saja lemah syahwat (afwan, red).

Namun karena sudah terlanjur ada ikatan hati tanpa status di antara kalian berdua, apa boleh buat, engkau mau tidak mau harus memilihnya karena sudah terlanjur terjalin komunikasi sejak lama sebelum engkau  mengetahui semuanya.

Sendainya engkau sedikit bersabar dan menahan dirimu dari menikmati komunikasi kalian selama ini, maka semuanya bisa dikendalikan. Bila saja engkau melewati jalur yang syar`i, tentu tidak ada yang perlu disesali.

Bukankah saat ta`arrufan, segalanya bisa ditanyakan? Kedua belah pihak, lelaki dan wanita tidak boleh menyembunyikan sedikit pun dari dirinya. Penyakitnya, kebiasaan-kebiasaanya, semuanya dapat kita tanyakan saat ta`arrufan.

Meminta komitmen awal pun dapat dilakukan saat ta`arruf. Inilah cara yang syar`i yang diajarkan oleh Islam agar setelah pernikahan kedua belah pihak sudah saling mengetahui, tidak ada yang disembunyikan, sehingga tidak ada yang merasa dibohongi dan dirugikan.

Yang hadir adalah sifat saling memahami karena kedua belah pihak telah ridho dengan kekurangan masing-masing yang telah sama-sama diakui saat ta`arrufan.

JANGAN BUKA JALAN SYAITAN

 Janganlah engkau membukakan jalan kepada Syaitan untuk mengganggu hubungan yang suci.

Pernikahan adalah sesuatu yang suci yang tak boleh dinodai oleh kerja-kerja syaitan. Pernikahan adalah ibadah maka harus melewati tuntunan Illahi.

Bersambung…

 ———————————

Disadur dari Buku “Aktivis Dakwah Kampus: Problematika dan Solusi”

Penulis: Andi Muhammad Akhyar, S.Pd., M.Sc. (Ketua Umum PP Lidmi periode 1435-1437 H/ 2015-2017 M).

2 comments
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *